Hal-Hal yang Membantu Kita Bersabar terhadap Kezaliman Seseorang kepada Kita (Bagian Kedua)

Dalam kitab Qa’idatun fi Ash Shabri, Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala menyebutkan,

Kelima, hendaknya seorang hamba mengetahui bahwa tidaklah seorang pun membalas kezaliman yang menimpa dirinya, kecuali itu akan memunculkan kehinaan pada dirinya. Namun, jika ia memaafkan, Allah ta’ala akan memuliakannya. Dan ini termasuk apa yang pernah dikabarkan oleh seorang jujur lagi dibenarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau bersabda,

مَا زَادَ اللهُ عَبْداً بِعَفْوِ إِلاَّ عِزًّا

“Tidaklah Allah tambahkan kepada orang yang memaafkan, kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Karena itu, kemuliaan yang didapat dari memaafkan lebih ia sukai dan lebih bermanfaat baginya daripada kemuliaan yang ia dapat dari membalas. Sebab, membalas itu adalah kemuliaan secara zhahir [baca: lahiriah] yang itu memunculkan kehinaan. Adapun memaafkan, ini terasa hina di batin. Akan tetapi, itu akan memunculkan kemuliaan secara lahir dan batin.

Keenam, dan ini termasuk manfaat yang sangat besar, hendaknya seorang hamba itu menyadari bahwa balasan itu tergantung dari amalannya dan hendaknya ia juga menyadari bahwa dirinya pelaku kezaliman dan pendosa.  Siapa saja yang memaafkan manusia [dari kezalimannya], Allah akan mengampuninya.

Karena itu, jika ia menyadari bahwa meaafnya, kelapangan dadanya, dan sikap baiknya yang manusia telah menyakitinya, maka itu semua akan jadi sebab Allah mengganjarnya sesuai amalannya, sehingga Allah akan memaafkannya, mengampuninya, dan berbuat baik kepadanya sebagai ganti dari dosa-dosanya. Ia pun akan mudah memaafkan dan bersabar. Manfaat yang seperti ini sudah cukup bagi orang yang berakal.

Ketujuh, hendaknya ia mengetahui, jika ia menyibukkan dirinya untuk membalas kezaliman dan menuntut perlakuan yang sama, maka itu akan menghilangkan waktunya, membuat lelah hatinya, dan membuatnya luput dari berbagai maslahat yang tidak mungkin ia dapatkan lagi. Bisa jadi yang seperti itu lebih besar ruginya daripada apa yang ia dapati dari kezaliman orang. Sebaliknya, jika ia memaafkan dan membiarkannya, maka hati dan tubuhnya akan mendapatkan berbagai maslahat yang jauh lebih penting baginya daripada membalas kezaliman orang.

Kedelapan, sesungguhnya tindakan membalas kezaliman menuntut perlakuan yang sama kepada orang yang menzaliminya dan menolongnya adalah membalas untuk dirinya dan menolong dirinya pribadi. Sebab sesungguhnya Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam tidak pernah membalas kezaliman kepada diri beliau.

Karena itu, jika seperti inilah makhluk Allah yang paling baik dan paling mulia di sisi Allah (tidak membalas atas apa yang menyakiti beliau pribadi, padahal beliau disakiti karena Allah, sementara pada diri beliau pribadi terkait hak-hak agama dan diri beliau adalah orang yang paling mulia, paling suci, paling baik dan paling jauh dari akhlak yang tercela serta paling berhak dengan segala akhlak yang terpuji, sedangkan beliau belum pernah membalas semua kezaliman kepada beliau), maka bagaimana mungkin salah seorang di antara kita membalas kezaliman kepadanya, sedangkan ia sendiri lebih tahu keburukan-keburukan dan aib-aib dirinya sendiri?

Sebaliknya, orang yang bijak—dirinya—tidak akan merasa berhak untuk membalas kezaliman yang menimpanya. Orang yang bijak tidak akan merasa dirinya punya kadar agar dirinya dibelas atas segala kezaliman yang menimpanya.

Kesembilan, jika seseorang disakiti karena apa yang ia lakukan untuk Allah atau karena melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi aoa yang Allah larang, maka wajib baginya untuk bersabar. Ia tidak berhak membalas apa yang menimpanya itu. Sebab ia disakiti karena Allah, sehingga balasan untuknya ada pada Allah.

Karena itu, orang-orang yang berjihad di jalan Allah—sampai jiwa dan harta mereka binasa karena Allah—tidak bisa menuntu ganti rugi. Sebab, Allah telah membeli dari mereka jiwa-jiwa dan harta-harta mereka. Maka, gantinya ada pada Allah. Bukan pada makhluk, sehingga siapa saja yang menuntut ganti pada mereka berarti Allah tidak akan memberinya pahala nanti. Dan siapa saja yang rugi karena Allah, maka Allah-lah yang akan mengganti kerugian itu.

Sebaliknya, siapa saja yang disakiti karena bermaksiat, maka hendaknya ia cela dirinya sendiri. Dengan itu, ia akan sibuk dengan dirinya ketimbang mencela orang yang menyakiti dirinya.

Dan siapa saja yang disakiti karena mengambil haknya, maka hendaklah ia mengokohkan dirinya di atas kesabaran. Sebab usahanya untuk mendapatkan hak-haknya itu adalah sesuatu yang lebih pahit daripada kesabaran.

Jadi, siapa saja yang tidak bisa bersabar dengan terik matahari, hujan, salju, beratnya perjalanan, dan [ancaman] perampok jalanan, maka tidaklah usah ia berdagang. Inilah perkara yang diketahui bersama di tengah-tengah manusia bahwa siapa yang jujur dalam mencari sesuatu, maka ia akan bersabar dalam meraihnya sesuai kadar kejujuran dalam mencarinya.

Sumber: Ibnu Taimiyah. Qa’idatun fi Ash Shabri. TTp: Darul Qasim. Tth, halaman 6-8.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Rabu, 6 April 2016/27 Jumadil Akhir 1437H

Print Friendly