Hamba Allah sebagai Kedudukan Paling Tinggi bagi Makhluk Pilihan

Dalam risalah yang berjudul Al ‘Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala pernah mengatakan,

Allah menyebut makhluk pilihanNya dengan penghambaan. Allah ta’ala berfirman,

عَيْناً يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيراً

“[Yaitu,] mata air di Surga yang darinya hamba-hamba Allah minum yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Insan: 6)

 

Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً

“Dan hamba-hamba Ar Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati (QS. Al Furqan: 63)” dan seterusnya.

Juga ketika setan mengatakan,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ .

“Iblis mengatakan, ‘Wahai Rabbku, karena Engkau sudah memutuskan aku sesat, aku pasti betul-betul akan menghias-hiasi perbuatan maksiat kepada mereka di muka bumi dan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang Engkau berikan keikhlasan di antara mereka.” (QS. Al Hijr: 39-40)

 

Allah ta’ala berfirman,

قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ . إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ .

“Allah berfirman, ‘Ini jalan yang lurus yang kewajibanKu-lah [menjaganya]. Sesungguhnya, hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu atas mereka, kecuali siapa saja yang mengikuti engkau dari kalangan orang-orang sesat’.” (QS. Al Hijr: 41-42)

 

Dan Allah  berfirman, terkait sifat-sifat malaikat, dengan itu pula,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ . لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ . يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ .

“Dan mereka mengatakan, ‘Rabb yang maha pengasih telah mengambil anak’. Maha suci Allah. [Malaikat-malaikat itu] adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului Allah dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafaat, kecuali kepada siapa saja yang di-ridho-i Allah dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (QS. Al Anbiya’: 26-28)

 

Allah ta’ala berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً . لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً . تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً . أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَداً . وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً . إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً . لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدّاً . وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْداً .

“Dan mereka mengatakan, ‘Rabb yang maha pengasih telah mengambil anak’. Sungguh, kalian telah mendatangkan satu perkara yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah, bumi belah, dan gunung-gunung runtuh karena mereka mengatakan Allah yang maha pemurah memiliki anak. Tidak layak bagi Rabb yang maha pemurah memiliki anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Rabb yang maha pemurah sebagai seorang hamba. Sesungguhnya, Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 88-95)

 

Tentang Isa ‘alaihis salam yang dianggap memiliki ketuhanan dan sebagai anak-Tuhan, Allah ta’ala berfirman,

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلاً لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ

“Sesungguhnya ia itu adalah seorang hamba yang telah Kami anugerahkan kepadanya [kenabian] dan Kami jadikan ia sebagai tanda bagi Bani Israil.” (QS. Az Zukhruf: 59)

 

Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang shahih,

“Jangan kalian berlebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya, aku ini hanyalah hamba. Maka, katakan oleh kalian, ‘Hamba Allah dan rasulNya’.”

Dan sungguh Allah telah menyebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “hamba” dalam keadaan-keadaan beliau yang paling sempurna. Maka, tentang Isra’ Mi’raj, Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya di waktu malam.” (QS. Al Isra’: 1)

 

Tentang pewahyuan, Allah berfirman,

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى

“Maka, Allah mewahyukan kepada hambaNya apa yang Allah wahyukan.” (QS. An Najm: 10)

 

Tentang doa, Allah berfirman,

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَداً

“Dan, sesungguhnya, ketika hamba Allah [Muhammad] berdiri berdoa kepadaNya hampir saja jin-jin itu berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al Jin: 19)

Tentang tantangan [Allah untuk membuat yang semisal Al Qur-an], Allah berfirman,

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ

“Dan jika kalian masih ragu dengan apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkan satu surat yang semisal dengannya.” (QS. Al Baqarah: 23)

Sumber: Ibnu Taimiyah. Al ‘Ubudiyyah (Cet. II). TTp: TPn. TTh, halaman 10-11.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,27 November 2015/14 Safar 1437H

Print Friendly