Hukum Memanggil Istri dengan UMMI” dan “UKHTI””

Pertanyaan:

Apakah boleh bagi seorang laki-laki untuk memanggil istrinya “Ya Ukhti [Wahai saudariku]” atau “Ya Ummi [Wahai ibuku]” dengan tujuan untuk mesra saja?

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala pun menjawab:

Ya. Boleh baginya untuk memanggil istrinya, “Ya Ukhti ” atau “Ya Ummi” dan kata-kata semisal itu yang mendatangkan sayang dan cinta, meskipun sebagian ulama memakruhkan seorang laki-laki memanggil istrinya dengan kata-kata seperti itu.

Akan tetapi, tidak ada sisi kemakruhannya. Sebab amalan-amalan itu tergantung pada niat-niatnya. Dan laki-laki tersebut tidak meniatkan dengan kata-kata tersebut bahwa [wanita] itu saudara perempuannya yang haram dinikahi dan mahramnya.

Ia melakukan itu semata-mata untuk mesra dan sayang kepadanya. Dan setiap sesuatu yang mendatangkan sebab kecintaan antara suami-istri, sama saja dari suami atau istri, itu perkara yang diharapkan.

RUJUKAN: diakses pada tanggal19 April 2015.

 

 

Dalam Syarhul Mumti’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala mengatakan:

Jika seorang suami memanggil, “Ya Ummi [Wahai ibuku], kemarilah, siapkan makan siang,” maka ini bukanlah termasuk hukum zhihar. Akan tetapi, para ahli fikih rahimahumullah menyebutkan, makruh bagi seorang laki-laki memanggil istrinya dengan sebutan-sebutan untuk mahram [yang haramkan dinikahinya], sehingga tidak boleh memanggilnya dengan “Ya Ukhti“, “Ya Ummi“, “Ya Binti [Wahai putriku]”, dan yang semisal itu.

Pendapat mereka itu tidak tepat, karena maknanya jelas bahwa ia memaksudkannya sebagai pemuliaan. Dan ini tidaklah mengapa. Bahkan, ini termasuk kata-kata yang membuat datangnya sayang, cinta, dan mesra.

diakses pada tanggal 19 April 2015


Zhihar berasal dari kata zhahru. Artinya, punggung. Adapun secara istilah, zhihar adalah perkataan seorang suami kepada istrinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku”, atau perkataan lain yang semakna dengannya dengan tujuan mengharamkan dirinya menggauli istri seperti halnya mengharamkan ibu sendiri atau saudara-saudara perempuan yang mahram dengannya [penerj.]

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu,25 April 2015/6 Rajab 1436H

Print Friendly