Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan Quthbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah? (HUKUM MEMVONIS AHLUL BID’AH SECARA UMUM)

Pertanyaan:

Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh dan Quthbiyah bagian dari ahlus sunnah atau bukan? Apakah boleh bekerja sama dengan mereka? Apakah boleh bagi kami untuk memboikot dan tidak mengucapkan salam kepada mereka?

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu ta’ala menjawab:

Yang lebih baik, dihukumi jamaah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh dan Quthbiyah dari sisi manhaj mereka. Manhaj mereka bukanlah manhaj ahlus sunnah wal jamaah.

Adapun untuk hukum perorangan, sebagian orang ada yang terpengaruh dan ia seorang Salafi. Mereka datang kepada orangnya mengatas-namakan membela agama Allah, sehingga ia pun berjalan dengan mereka dalam keadaan tidak tahu apa manhaj mereka. Maka, untuk perorangan, itu campur. Tidak dapat dihukumi dengan hukum umum. Dan manhaj tersebut bukanlah manhaj ahlus sunnah wal jamaah.

Adapun permasalahan bekerja sama dengan mereka, maka saya nasehatkan agar ahlus sunnah meminta pertolongan kepada Allah dan menegakkan kewajiban-kewajiban mereka terhadap dakwah di jalan Allah. Yang terjadi adalah bahwa kita tidak bisa bekerja sama dengan saudara-saudara kita sesama ahlus sunnah di Yaman, Sudan, Mekkah, Madinah, Nejed, Mesir dan Yordania. Maka, mengapa kita mau bekerja sama dengan orang-orang yang melihat ahlus sunnah sebagai musuh yang paling mereka benci?

Apabila engkau pergi dengan mereka, maka itu hanya akan membuat para pemuda terpengaruh. Engkau menyampaikan khotbah, kemudian mereka akan merangkul para pemuda. Kitab-kitab telah ditulis dan telah dijelaskan pula mengenai kerusakan manhaj mereka.

Dan di antara para ulama yang paling mengerti tentang kelompok kelompok di zaman ini, susupan dan penyimpangannya, adalah saudara Rabi’ bin Hadi yang mudah-mudahan senantiasa Allah lindungi beliau. Siapa saja yang dikatakan oleh saudara Rabi’ bahwa ia seorang hizbi, maka akan tersingkap suatu hari bahwa ia seorang hizbi.

Sebab, seseorang pada awalnya menutup nutupi. Tidak ingin tersingkap. Akan tetapi, ketika ia sudah mempunyai kekuatan, mempunyai pengikut, dan tidak akan membahayakan kritikan orang kepadanya ia akan memperlihatkan siapa sebenarnya dirinya.

Saya nasehatkan untuk memperhatikan kitab-kitab beliau, membaca dan mengambil faidah darinya. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi beliau.

Orang-orang biasanya tertipu dengan penampilan. Fulan yang menghadiri halaqah-nya 2.000 orang dan Fulan halaqah-nya dihadiri 5.000 sampai 10.000 orang atau jamaah yang sangat banyak. Sampai, tidak diketahui jumlahnya, kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Andaikan seluruh yang hadir itu disaring, maka hanya sekitar 100 orang yang mereka ahlus sunnah.

RUJUKAN: Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Gharah Al Asyrithah ‘ala Ahlil Jahli was Safsathah: Juz II. Kairo: Darul Haramain. 1419H/1998M, halaman 9-10.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Senin,30 Maret 2015/9 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly