Kapan Ucapan dan Perbuatan Ulama Salaf Menjadi Hujjah bagi Kita?

Pertanyaan:

Apakah ucapan dan perbuatan ulama salaf adalah hujjah?

 

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Madkhali rahimahullahu ta’ala menjawab:

Tidak. [Ucapan ulama salaf dan perbuatan mereka] bukan hujjah. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

اتَّبِعُوا مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian ikuti selainnya sebagai penolong-penolong kalian. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran darinya.” (QS. Al A’raf: 3)

Orang-orang dalam hal ini ada yang berlebih-lebihan, ada pula yang bermudah-mudahan. Di antara mereka ada yang meremehkan, sampai berkata, “Mereka laki-laki. kita pun laki-laki.” Memang benar, mereka laki-laki dan kita pun laki-laki, tetapi perbedaan kita dengan mereka bagaikan bumi dan langit.

Karena itu, kita sangat memerlukan pemahaman mereka, para ulama, untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Az Zuhri dan sahabat beliau menulis hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah keduanya selesai menulis hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada mereka berdua, Imam Az Zuhri melanjutkan menulis riwayat-riwayat para sahabat, sedangkan sahabat beliau tidak menganggapnya sebagai suatu ilmu. Berkatalah sahabat beliau, “Az Zuhri sukses, beruntung, dan aku merugi,” atau yang semakna dengan itu.

Andaikan tidak ada faedah—pada riwayat sahabat, maka para ulama tidak akan menulis tentang itu dan juga para ulama tidak akan memasukkan itu dalam karya-karya mereka, seperti Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, Al Baihaqi dalam Sunan-nya, dan seterusnya menukilkan ucapan-ucapan para ulama salaf. Maka, tidaklah pantas untuk dikatakan bahwa riwayat-riwayat ulama salaf tidak berharga sedikit pun. Tetapi kita sangat memerlukan pemahaman mereka. Dan seharusnya kita memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman mereka.

Adapun untuk dikatakan itu hujjah, maka sama sekali tidak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى الَّهِ

“Dan apapun yang kalian perselisihkan, maka hukumnya kepada Allah.” (QS. Asy Syura: 10)

Allah berfirman,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

“Dan apabila kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An Nisa’: 59)

Allah berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ

“Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah.” (QS. Al An’am: 153)

Allah berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

“Dan apapun yang sampai kepada kalian dari rasul, maka ambillah. Dan apapun yang dilarang oleh rasul, maka jauhilah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Dan kelompok yang lain berlebih-lebihan mereka ber-hujjah dengannya, menjadikan ucapan salaf sebagai hujjah, dan ini salah, sebagaimana yang telah disebutkan dalil-dalil tadi. Adapun kelompok ketiga berkata, “Kita meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu dengan pemahaman para ulama salaf kita yang shalih untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah.”

RUJUKAN: Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Gharah Al Asyrithah ‘ala Ahlil Jahli was Safsathah: Juz II. Kairo: Darul Haramain. 1419H/1998M, halaman 9-10.


———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa,31 Maret 2015/10 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly