Mengapa Kami Pakai di Kanan?

Pertanyaan:

Kami lihat, sebagian manusia mengenakan jam tangan di tangan kanan. Menurut mereka, itu perkara yang mustahab. Lantas, apa dalilnya?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu ta’ala menjawab:

Dalam masalah ini, kita berpegang pada apa yang disinggung dalam hadits Aisyah di dalam Shahih [Al Bukhari dan Shahih Muslim]. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ في تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Adalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senang untuk mendahulukan yang kanan dalam segala hal. Ketika menyisir, memakai sandal atau ketika thaharah dan dalam segala urusannya.” [HR. Al Bukhari (1/75) dan Muslim (1/226)]

Kita tambahkan juga hadits yang lain. Diriwayatkan dalam Shahih [Al Bukhari dan Shahih Muslim] dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

إِنَّ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambut-rambut mereka. Karena itu, selisihilah mereka.” [HR. Al Bukhari (4/73) dan Muslim (3/1663) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Dan hadits-hadits lainnya yang di dalamnya terdapat perintah untuk menyelisihi orang-orang musyrik.

Dari semua hadits tersebut, terkumpul satu dasar untuk kita: disunnahkan bagi seorang muslim untuk menjadikan setiap pandangannya menyelisihi orang-orang kafir. Dan demikian pula hendaknya kita ingat bahwa menyelisihi orang-orang kafir itu satu hal dan menyerupai mereka–yang itu dilarang oleh syariat–adalah satu hal lainnya.

Karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai orang-orang kafir. Dan hendaknya ia selalu bertekad untuk menyelisihi mereka.

Dari situlah, [kita lihat] orang-orang kafir biasa mengenakan jam tangan di tangan kiri dan kita mendapatkan perkara yang lapang sekali dari syariat untuk menyelisihi merea dalam kebiasaan tersebut. Dalam mengenakan jam tangan di tangan kanan, ada bentuk dasar [atau landasan sikap] mendahulukan yang kanan dan juga menyelisihi orang-orang kafir.

Sumber:  ‘Amr Abdul Mun’im Salim (Ed). Al Masa-il Al ‘Ilmiyyah wal Fatawa Asy Syar’iyyah: Fatawa Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani fil Madinah wal Imarat. Mesir: Dar Adh Dhiya’. 1427H/2006M, halaman 148-150.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu,16 Agustus 2015/1 Dzulkaidah 1436H

Print Friendly