Menyikapi-Fatwa Dua Ulama yang Berbeda

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya tentang apa yang terjadi pada perbedaan fatwa seorang ulama dengan ulama yang lain terkait satu permasalahan. Apa penyebabnya? Bagaimana [pula] sikap orang yang meminta fatwa-fatwa tersebut? Beliau rahimahullah menjawab:

 

Penyebabnya ada dua hal.

Pertama, ilmu. Terkadang, salah seorang mufti belum memiliki ilmu yang ada pada mufti yang lain, sehingga mufti yang lain itu lebih luas dalam telaahnya daripada mufti yang pertama tadi. Ia menelaah apa yang belum ditelaah oleh mufti lainnya.

Kedua, pemahaman. Sebab, manusia memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Kadang, dalam ilmu sama, tetapi berbeda dalam memahami. Jadi, Allah ta’ala memberi kepada mufti ini pemahaman yang luas dan dalam. Ia dapat memahami apa yang ia ilmui lebih daripada yang lain. Ketika itu, ia menjadi yang paling banyak ilmunya dan paling kuat pemahamannya—lebih dekat kepada kebenaran dari yang lainnya.

Adapun dilihat dari sisi orang yang meminta fatwa, jika dua ulama yang memberi fatwa berbeda pendapat, maka hendaknya ia ikuti siapa yang ia pandang lebih dekat pada kebenaran, baik karena ilmu ulama itu atau karena sifat wara’ dan agamanya. Seperti halnya seseorang ketika sakit dan berbeda diagnosis dua orang dokter [tentangnya], maka ia akan mengambil diagnosis dokter yang ia pandang lebih dekat kepada kebenaran.

Jika dua pendapat itu sama baginya dan tidak bisa menguatkan satu pendapat di antara dua mufti itu, maka ia—jika mau—bisa memilih yang ini atau memilih yang itu. Dan mana yang lebih membuatnya tenang, maka ambillah itu.

Rujukan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Kitab Al ‘Ilmi, halaman 147.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 5 Maret 2015/14 Jumadil Awal 1436H

Print Friendly