Nasehat untuk Berpegang kepada Dalil-Dalil dan Meninggalkan Sikap Fanatik terhadap Perkataan-Perkataan Manusia

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, dalam Qami’ul Ma’anid, halaman 566, mengatakan,

“Dan saya nasehatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, keduanya memberi ketenangan yang banyak [kepada kita]. Sehingga, engkau katakan, ‘Allah berfirman’, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’, dan muncul atsar yang dha’if dari sahabat, tabi’in, imam dari para imam. Atau, bisa jadi, datang kepadamu perkataan Muhammad Al-Ghazali yang menyimpang itu, Hasan At-Turabi yang menyimpang itu, Ali Thanthawi, Muhammad Asy-Sya’rawi, dan seterusnya. Tidak. Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa kecuali. Kita minta tolong kepada Allah, kemudian kepada pemahaman para salafus shalih untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita tidak katakan, mereka laki-laki dan kita juga laki-laki. Asy-Syafi’i laki-laki dan saya juga laki-laki. Tidak. Bedanya antara saya dan beliau seperti beda antara langit dan bumi. Akan tetapi, maksudnya, tidak ada hujjah kecuali Al-Qur’an dan As-Sunnah, setelah itu kita mencoba memahami keduanya lewat pemahaman Imam Asy-Syafi’i, pemahaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, pemahaman para sahabat Rasulullah, dan pemahaman-pemahaman para ulama. Kita meminjam pemahaman mereka untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang pernah disebutkan oleh Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, ‘Ambillah dari logika itu apa yang bisa kalian pakai untuk menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah’ atau yang semakna dengan ini.”

Rujukan: Ali Ar Razihi. An Nush-hu Al Amin li Thalabah Al ‘Ilmi wa Sa-ir As Salafiyyin min Kalam Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’i. Shan’a: Maktabah Shan’a Al Atsariyyah. 1424H/2004M, halaman 75.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis,29 Januari 2015/8 Rabiul Akhir 1436H

Print Friendly