NIKMAT DAN MUSIBAH ITU BAIK (Catatan: Bagi Orang-Orang yang Beriman)

Dalam Qa-idah fi Ash Shabri, Ahmad bin Abdil Halim Al Harrani atau yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan untuk hamba-hambaNya yang mukmin kebaikan di setiap keadaan. Mereka selalu berada dalam kenikmatan dari Rabb mereka. Allah memberi mereka apa yang mereka senangi atau yang mereka benci dan Allah menjadikan segala ketentuan dan takdir yang telah ditetapkan untuk dan atas mereka sebagai lahan niaga yang mereka harapkan keuntungannya dan jalan-jalan yang dapat membawa mereka kepada Allah, sebagaimana yang telah shahih datangnya dari imam mereka dan orang yang mereka ikuti—yang pada hari kiamat nanti setiap umat akan dipanggil bersama imam masing-masing—shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi [semoga shalawat Allah dan salamNya dilimpahkan kepada beliau] bahwa beliau bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عَجَبٌ ، مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضاءٍ إِلاَّ كَانَ خَيْرًا لَهُ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya, semua perkaranya menakjubkan. Tidaklah Allah tetapkan untuknya satu ketetapan, kecuali itu baik untuknya. Jika diberi kebaikan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu baik  pula baginya.” [HR. Muslim, nomor 2999]

Hadits di atas mencakup seluruh ketetapan Allah terhadap hambaNya yang mukmin dan itu baik bagi hamba tersebut jika ia bersabar dengan apa yang ia tidak sukai dan bersyukur dengan apa yang ia sukai. Bahkan, yang seperti itu masuk ke dalam iman. Sebab iman itu, sebagaimana para salaf mengatakan, “terdiri dari dua: setengahnya bersabar dan setengahnya [lagi] bersyukur” seperti firman Allah ta’ala,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap yang bersabar dan bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5; QS. Luqman: 31; QS. Saba’: 91; QS. Asy Syura: 33)

Jika seorang hamba merenungi semua itu, ia akan melihat bahwa semuanya akan kembali kepada sabar dan syukur. Dan itu, karena sabar terbagi menjadi tiga.

Pertama, sabar di atas ketaatan kepada Allah sampai ia dapat mengerjakannya. Sesungguhnya, seseorang itu hampir tidak bisa mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya melainkan setelah ia bersabar, menyabarkan dirinya, dan memerangi musuh-musuhnya baik musuh yang tampak ataupun yang tidak tampak. Seberapa kuat kesabaran ini ada padanya, sebanyak itu pula ia dapat menunaikan perintah-perintah Allah dan amalan-amalan sunnah.

Kedua, sabar dari apa-apa yang dilarang sampai ia tidak mengerjakannya. Sebab hawa nafsu dan hasarat-hasratnya, godaan-godaan setan, dan teman-teman yang buruk mengajaknya bermaksiat dan mengenteng-entengkan maksiat itu. Seberapa kuat kesabaran ini, sebanyak itu pula ia dapat meninggalkan apa-apa yang diharamkan kepadanya. Sebagian salaf mengatakan, “Amalan-amalan baik [bisa] dikerjakan oleh orang yang baik dan orang yang rusak, tetapi meninggalkan maksiat-maksiat tidak bisa dikerjakan kecuali oleh orang yang shiddiq [jujur dalam keimanannya].”

Ketiga, sabar atas musibah-musibah yang menimpa di luar keinginannya.

Sumber: Ibnu Taimiyah. Qa’idatun fi Ash Shabri. TTp: Darul Qasim. Tth, halaman 2-3.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Minggu,28 Pebruari 2016/19 Jumadil Awal 1437H

Print Friendly