Perilaku-Perilaku Jahiliyyah yang Harus Betul-Betul Dijauhi Seorang Muslim (Bagian Kedua)

Perkara-perkara jahiliyyah berikutnya yang harus diketahui oleh seorang muslim, seperti dikatakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam Masa-il Al Jahiliyyah, adalah:

Perkara keempat, agama orang-orang jahiliyyah dibangun di atas sejumlah dasar. Yang paling utamanya adalah sikap taklid. Dan itu sebuah kaedah yang paling besar bagi seluruh orang-orang kafir dari pertama sampai terakhir mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun di satu negeri kecuali orang-orang yang hidup mewah di situ akan mengatakan, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut satu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (QS. Az Zuhruf: 23)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, ‘Ikutlah apa-apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: “[Tidak], tetapi kami [hanya] mengikuti apa-apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka [tetap akan mengikuti bapak-bapak mereka], meskipun setan mengajak mereka ke dalam siksa Neraka?” (QS. Luqman: 21)

Karena itu, Rasulullah mendatangi mereka dengan firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ

“Katakan, ‘Sesungguhnya, aku hendak memperingatkan kalian satu hal saja: hendaklah kalian menghadap hanya kepada Allah berdua atau sendiri-sendiri. Lalu, kalian renungkan bahwa tidak ada penyakit gila sedikit pun pada teman kalian [Muhammad] itu’.” (QS. Saba’: 46)

Dan firman Allah ta’ala,

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti para pelindung selain Allah. [Sungguh] sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran [darinya].” (QS. Al A’raf: 3)

Perkara kelima, sesungguhnya, termasuk dari kaedah-kaedah terbesar mereka adalah terpukau dengan jumlah yang banyak. Dengan jumlah yang banyak itu mereka ber-hujjah akan benarnya sesuatu. Dan menjadikannya sandaran sesuatu yang batil dengan asingnya sesuatu itu dan sedikit pengikutnya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka dengan kebalikan hal tersebut dan menjelaskannya lebih dari satu tempat di dalam Al Qur-an.

Perkara keenam, ber-hujjah dengan orang-orang terdahulu seperti firman Allah ta’ala,

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى

“Berkata [Fir’aun], ‘Maka, bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’.” (QS. Thaha: 51)

مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“…’belum pernah kami mendengar yang seperti ini di nenek-nenek moyang kami dulu’.” (QS. Al Mu’minun: 24)

Perkara ketujuh, berdalil dengan satu kaum yang diberi kekuatan di dalam pemahaman, pekerjaan, kekuasaan, harta-benda, dan kedudukan. Karena itu, Allah membantah hal tersebut melalui firmanNya,

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ

“Dan sungguh betul-betul telah Kami teguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah teguhkan kedudukan kalian di dalamnya.” (QS. Al Ahqaf: 26)

Dan firmanNya,

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ

“Dan ketika datang kepada mereka Al Qur-an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—sedangkan mereka sebelumnya mereka biasa mengharapkan [kedatangan nabi terakhir] agar menang atas orang-orang kafir—lalu ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka ingkar kepadanya.” (QS. Al Baqarah: 89)

Juga firmanNya,

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ

“Mereka mengenalnya [yaitu, Rasulullah], sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka.” (QS. Al Baqarah: 146)

Perkara kedelapan, berdalil tentang batilnya sesuatu dengan tidak diikutinya sesuatu itu kecuali oleh orang-orang lemah. Seperti firman Allah ta’ala,

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“…’Apakah kami beriman kepadamu, sedangkan yang mengikutimu adalah orang-orang yang hina?’.” (QS. Asy Syu’ara’: 111)

Dan firmanNya,

أَهَـؤُلاء مَنَّ اللّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا

“…’Orang-orang semacam inikah yang telah Allah beri anugrah di antara kira?’.” (QS. Al An’am: 53)

Maka, Allah bantah hal itu melalui firmanNya,

أَلَيْسَ اللّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Bukankah Allah yang lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?”. (QS. Al An’am: 53)

Perkara kesembilan, mencontoh ulama-ulama yang fasik dan ahli-ahli ibadah yang bodoh. Maka, Allah datang dengan firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيراً مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

“Wahai, orang-orang beriman, sesungguhnya, kebanyakan ulama-ulama Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar makan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah.” (QS. At Taubah: 34)

Juga dengan firmanNya,

لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ

“…’janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang dahulu yang telah sesat [yakni, sebelum kedatangan Muhammad] dan yang  telah menyesatkan kebanyakan orang. Mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (QS. Al Ma-idah: 77)

Perkara kesepuluh, berdalil akan batilnya satu agama dengan lemahnya pemahaman para pemeluknya dan tiadanya hafalan mereka, seperti ucapan mereka,

بَادِيَ الرَّأْيِ

“…yang mudah percaya saja…” (QS. Hud: 27)

Sumber: Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Masa-il Al Jahiliyyah allati Khalafa fiha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ahlal Jahiliyyah. Kairo: Al Mathba’ah As Salafiyyah. 1347H, halaman 13-23.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat,30 Oktober 2015/16 Muharram 1437H

Print Friendly