Peristiwa Baiat Al Aqabah II pada Tahun Terakhir Rasulullah Berada di Mekkah

Tentang terjadinya Baiat Al ‘Aqabah kedua, dalam Al Fushul fi Sirah Ar Rasul, Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala mengatakan,

Islam pun muncul dan menyebar banyak di Madinah. Setelah itu, Mush’ab bin ‘Umair kembali ke Mekkah.

Pada tahun itu, banyak orang Anshar yang datang ke Mekkah pada musim haji, baik dari kalangan muslimnya ataupun dari kalangan musyriknya. Yang menjadi pemimpin rombongan adalah Al Bara’ bin Ma’rur radhiyallahu ‘anhu.

Ketika malam [terjadinya Baiat] Al ‘Aqabah, pada sepertiga malam pertama, 73 laki-laki dan dua orang perempuan Anshar mengendap-endap keluar menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun berbaiat [berjanji setia] kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—secara sembunyi-sembunyi dari kaum mereka dan orang-orang kafir Mekkah—untuk melindungi beliau seperti halnya melindungi istri-istri dan anak-anak  mereka (serta kaum wanita mereka).

Orang yang pertama berbaiat kepada Rasulullah adalah Al Bara’ bin Ma’rur. Beliau radhiyallahu ‘anhu memiliki tangan yang sigap, ketika menegaskan janji dan bersegera untuk itu. Al ‘Abbas, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hadir untuk mengokohkan dan memperkuat baiat yang pada saat itu ia masih memegang agama kaumnya.

Dari orang-orang Anshar, pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih dua belas pemuka Anshar. Mereka adalah As’ad bin Zurarah bin ‘Adas, Sa’ad bin Ar Rabi’ bin ‘Amr, Abdullah bin Rawahah bin Imri-il Qais, Rafi’ bin Malik bin Al ‘Ajlan, Al Bara’ bin Ma’rur bin Shakhr bin Khansa’, Abdullah bin ‘Amr bin Haram (beliau adalah ayah Jabir, pada malam itu telah masuk Islam, radhiyallahu ‘anhu), Sa’ad bin ‘Ubadah bin Dulaim, Al Mundzir bin ‘Amr bin Khunais, dan ‘Ubadah bin Ash Shamit.

Mereka bersembilan berasal dari Khazraj. Adapun dari Aus, ada tiga orang. Mereka adalah Usaid bin Al Khudhair bin Simak, Sa’ad bin Khaitsamah bin Al Harits, dan Rifa’ah bin Abdil Mundzir bin Zanbar. Ada yang mengatakan, “[Bukan beliau], tetapi Abul Haitsam bin At Tayyahan.” Setelah itu, barulah orang-orang lainnya. Dua orang perempuan yang ikut mereka adalah Ummu ‘Umarah Nusaibah bintu Ka’ab bin ‘Amr yang putranya—Habib bin Said bin ‘Ashim bin Ka’ab dibunuh oleh Musailamah Al Kadzdzab—dan Asma bintu ‘Amr bin Adi bin Nabi.

Setelah selesai baiat itu, mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi penduduk Al ‘Aqabah. Akan tetapi, Rasulullah tidak mengizinkan mereka untuk seperti itu.

Sebaliknya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan muslimin Mekkah untuk hijrah ke Madinah. Maka, bersegeralah sahabat-sahabat beliau untuk berhjrah.

Orang yang pertama hijrah (ke Madinah) dari kalangan penduduk Mekkah adalah Abu Salamah bin Abdil Asad, ia dan istrinya, Ummu Salamah. Akan tetapi, Ummu Salamah dipisahkan darinya dan tertahan selama setahun dari bertemu dengannya. Juga dipisahkan dari putranya. Setelah setahun, Ummu Salamah pergi hijrah bersama putranya ke Madinah. Yang menemaninya adalah Utsman bin Abi Thalhah.

Ada yang mengatakan bahwa Abu Salamah hijrah ke Madinah sebelum Baiat Al ‘Aqabah yang kedua. Allahu a’lam. Setelah itu, barulah kaum muslimin berhijrah, rombongan demi rombongan. Sebagian menyusul sebagian yang lainnya.

Sumber: Abul Fida’ Ismail bin Umar Ibnu Katsir Al Qurasyi. Al Fushul fi Sirah Ar Rasul: Juz I (Cet. III). Kuwait: Ghuras. 1430 H/2009 M, halaman 72-74.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Jumat, 6 November 2015/23 Muharram 1437H

Print Friendly