Peristiwa Peristiwa Penting yang Terjadi pada Tahun Keenam Hijriah

Dalam kitab Amali fi As Sirah An Nabawiyyah, Al Hafizh Ibnu Ahmad Al Hakami rahimahullah menulis,

Pertanyaan:

Apa saja ibadah yang disyariatkan pada tahun keenam hijriah?

Jawaban:

Di tahun ini, [disyariatkan:]

[1] Shalat khauf ketika Perang Usfan di bulan Jumadil Ula.

[2] Di bulan Dzulqa’dah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan umrah Al Hudaibiyah dan orang-orang musyrikin menghalangi beliau. Di sanalah, terjadi Baiat Ridhwan. Dan di sanalah pula dijelaskan hukum orang yang tertahan [untuk umrah] dan diwajibkan haji menurut pendapat Imam Syafi’i.

***

Pertanyaan:

Apa saja perang yang terjadi pada tahun ini?

Jawaban:

[1] Di bulan Jumadil Ula di tahun ini terjadi Perang Bani Lihyan, yaitu Perang Usfan yang disyariatkan pada waktu itu shalat khauf ketika shalat Ashar.

[2] Di tahun ini, terjadi Perang Dzi Qarad. Ada yang mengatakan di tahun ketujuh hijriah. Ini perang yang di dalamnya Uyainah bin Hishn merampok ternak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, Salamah bin Al Akwa’ merampas kembali sebagian ternak itu sebelum datang pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun memberi Salamah bagian ghanimah yang setara untuk pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki.

[3] Di bulan Sya’ban tahun ini, [terjadi] Perang Bani Musthaliq. Dari Bani Musthaliq, terdapat Juwairiyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ini menjadi sebab dimerdekakannya tawanan mereka. Di perang ini, Ibnu Salul berbicara tentang sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan turun tentangnya Surat Al Munafiqun. Di perang ini pula, [terjadi] peristiwa al ifki [kabar dusta tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha] dan turun 15 ayat dari Surat An Nur yang membersihkan nama Aisyah. Ditegakkanlah [kemudian] hukuman bagi yang menuduh beliau radhiyallahu ‘anha.

[3] Sebagian ulama menghitung peristiwa Al Hudaibiyah sebagai perang, karena apa yang terjadi di akhirnya dan baiat yang ada padanya. Namun sebagian lain tidak menghitungnya sebagai perang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat dari Madinah untuk berperang.

***

Pertanyaan:

Bagaimana terjadinya Perjanjian Hudaibiyah?

Jawaban:

Perjanjian terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Quraisy agar:

[1] Hendaknya mereka menghentikan perang selama sepuluh tahun

[2] Hendaknya siapa saja yang mendatangi beliau shallallahualaihi wa sallam dari kaum musyrikin supaya dikembalikan kepada mereka

[3] Dan siapa saja dari kaum muslimin yang mendatangi kaum musyrikin, mereka tidak dikembalikan

[4] Hendaknya siapa saja yang bergabung ke pihak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bisa bergabung. Demikian pula siapa yang hendak bergabung dengan pihak Quraisy, ia bisa bergabung—keluarga Khuza’ah bergabung ke pihak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Bani Bakr ke pihak Quraisy

[5] Hendaknya Rasulullah pulang tahun itu—tidak masuk ke Mekkah—dan [baru] umrah pada tahun yang akan datang—orang-orang Quraisy akan keluar dari Mekkah selama tiga hari dan Rasulullah keluar dari Mekkah [setelah tiga hari]

Perjanjian ditutup dengan itu dan turunlah tentangnya Surat Al Fath secara lengkap. Perjanjian itu pun menjadi kemenangan yang sudah dekat.

***

Pertanyaan:

Apa saja ayat yang turun menghapus sebagian ayat [Al Qur-an yang sebelumnya]?

Jawaban:

Ayat-ayat ujian turun terkait wanita-wanita mukminat yang hijrah. Jika diketahui keimanan mereka, maka haram mengembalikan mereka kepada orang-orang musyrikin: wanita-wanita itu tidak halal untuk mereka dan mereka pun tidak halal untuk wanita-wanita itu. Orang-orang Quraisy menghapus poin [perjanjian] hingga tidak dikembalikan siapa saja yang hijrah dari kaum muslimin—karena mereka bermukim di jalan selain ke jalan Madinah dan menghadang jalanan orang-orang Quraisy ketika mereka dikembalikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Quraisy.

***

Pertanyaan:

Berapa pasukan yang diutus pada tahun ini?

Jawaban:

Di tahun ini, [diutus:]

[1] Pasukan Abu Ubaidah ke Dzul Qashah.

[2] Pasukan Zaid bin Haritsah ke Bani Sulaim dan pada bulan Jumadil Ula pasukan ini dikirim ke Bani Tsa’labah. Di bulan yang sama pasukan ini dikirim untuk mencegat kafilah dagang Abul Ash. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaminkannya kepada Zainab putri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengembalikan semua barang dagangan Abul Ash.

[3] Di tahun ini, diutus juga pasukan Abdurrahman bin Auf ke Dumatul Jandal dan penduduknya pun masuk Islam.

[4] Di tahun ini, terjadi aksi kaum Uraniyyun yang mereka itu memerangi Allah dan rasulNya. Mereka membunuh penggembala ternak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merampas unta beliau. Mereka pun ditangkap, disalib, dan dibunuh. Tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dipotong secara bersilangan dan mata-mata mereka dibuat buta.

***

Pertanyaan:

Berapa surat yang dikirim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke raja-raja pada tahun ini?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus:

[1] Dihyah bin Khalifah ke Kaisar, raja Romawi

[2] Abdullah bin Hudzafah As Sahmi ke Kisra, raja Persia

[3] Amr bin Umayyah Adh Dhamri ke An Najasyi, raja Habasyah

[4] Hathib bin Abi Balta’ah ke Muqauqis, raja Iskandariah

[5] Amr bin Al Ash ke Ja’far dan Abd, dua putra Al Julandi Al Azdi, dua raja Oman

[6] Salith bin Amr ke Tsumamah bin Utsal Al Hanafi dan Haudzah bin Ali Al Hanafi, dua penguasa Yamamah

[7] Al ‘Ala bin Al Hadhrami ke Al Mundzir bin Sawa Al ‘Abdi, raja Bahrain

[8] Syuja’ bin Wahb Al Asadi ke Al Harits bin Abi Syimr Al Ghassani, penguasa di dekat Syam—ada yang mengatakan ke Jabalah bin Al Abham Al Ghassani

[9] Rasulullah juga mengutus Al Muhajir bin Abi Umayyah Al Makhzumi ke Al Harits bin Abdi Kilal Al Himyari dan ini terjadi di bulan Dzulhijjah atas apa yang telah disebutkan, wallahu a’lam

Rujukan: Al Hafiz Ibnu Ahmad Al Hakami. Amali fi As Sirah An Nabawiyyah. TTp: TPn. TTh, halaman 43-48.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu, 2 Juli 2016/26 Ramadhan 1437H

Print Friendly