Pihak yang Berhak Melaksanakan Hukuman terhadap Para Pelaku Zina

Tentang siapa yang berhak menegakkan hukum rajam terhadap pelaku zina, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala pernah menyinggungnya dalam kitab Syarh Al Arba’in An Nabawiyyah. Kata beliau,

Jadi, pelaku zina yang telah menikah halal darahnya. Akan tetapi, jika memang darahnya halal, apakah setiap individu bisa menegakkan hukuman mati untuknya? Jawabannya, tidak. Tidak bisa setiap individu menegakkan hukuman mati kepada pelaku tersebut, kecuali pemerintah atau orang yang mewakilinya karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا

“Pergilah, wahai Unais, kepada perempuan [yang sudah menikah] itu. Jika ia mengaku, maka rajamlah.” [HR. Al Bukhari (no. 2724) dan Muslim (no. 25 & 16697)]

Jika kita katakan bahwa seseorang boleh menghukum mati pezina tersebut karena darahnya tidak terjamin lagi, niscaya akan terjadi kekacauan dan keburukan yang tidaklah ada yang tahu kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena itu, para ulama mengatakan, “Tidak boleh melakukan hukuman mati dan berbagai hukuman lainnya, kecuali pemerintah atau orang yang mewakilinya.”

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah. Riyadh: Dar Ats Tsurayya. 1423H/2003M, halaman 171.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly