Rencana Besar Syiah IRAN Di Timur Tengah,. benih-benihnya sudah ada di INDONESIA..

Ada Apa Dibalik Kematian Hasan Syahatah?

KAIRO (gemaislam) – Pekan lalu, seorang tokoh Syiah tewas di Mesir. Hasan Syahatah namanya. Kalau anda mencari di google dengan menuliskan namanya, mungkin tak banyak maklumat yang bisa anda temui melainkan berita tentang kematiannya. Namun yang jelas, satu hal yang juga tidak bisa dipungkiri adalah bahwa penduduk Mesir tahu benar bahwa orang ini adalah pentolan Syiah di Mesir.

Berita kematiannya menyebar dengan cepat di dunia maya. Video tentang kronologi kematiannya pun banyak terdapat di Youtube, meskipun beberapa diantaranya telah dihapus karena mengandung “muatan kekerasan yang mengerikan”. Walhasil, beberapa orang (dari kelompok Syiah) menilai bahwa telah terjadi pembunuhan keji terhadap Syahatah dan kaum muslimin telah kalap serta menjadi brutal.

Ada sebab, ada akibat

Berbicara mengenai Syiah tak lepas dari akidah dan ideologi menyimpang yang mereka miliki. Terlalu panjang rasanya bila dalam tulisan singkat ini dipaparkan keseluruhannya. Satu diantara point-pointnya adalah jargon kecintaan mereka terhadap Ahlul Bait dan genderang perang yang mereka tabuh terhadap para sahabat Rosululloh.

Kembali kepada Hasan Syahatah. Dalam sebuah video, Syahatah ditanya tentang sepuluh sahabat yang dijamin masuk Surga. Dengan entengnya, Syahatah berujar bahwa kabar yang menyebutkan bahwa mereka masuk surga adalah kebohongan atas Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Syahatah bahkan tak ragu melabeli mereka dengan doa penuh laknat.

Kekejian berikutnya adalah hinaannya terhadap Aisyah rodhiyallohu ‘anha. Aisyah, yang tak lain adalah ummul mu’minin (ibunda orang-orang beriman) tak lepas dari celaannya. Na’udzu billahi min dzalik. Siapa yang tahan jikalau ibundanya dicela dan dihina dengan sedemikian hinanya.

Serta berbagai perbuatan Syahatah menyimpang lainnya yang membuat masyarakat Mesir gerah dan memberikan “pelajaran” kepadanya.

Ada Agenda Iran untuk Timur Tengah

Kita awali dengan krisis Suriah. Krisis Suriah telah lebih dari dua tahun menjadi headline utama dari hampir semua surat kabar. Orang-orang awam yang hanya melihat sepintas, menganggap bahwa unsur politik-lah yang menjadi penyebab semua kekacauan yang terjadi.

Melihat sepintas tentu saja berbeda dengan mentelaah atau melihat kedalam. Oleh karenanya, jikalau orang awam tersebut dipaparkan kepadanya sisi historis yang melatar-belakangi krisis Suriah, niscaya ia akan mengetahui bahwa akidah-lah yang menjadi panggung peperangan antara rezim Bashar Assad dengan para pejuang revolusi.

Bashar Assad dan bapaknya, Hafiz Assad, telah memegang tampuk kekuasaan di Suriah sejak tahun 70-an. Seorang aktivis Suriah, Syaikh Goyyats Abdul Baqi’ dalam bincang-bincang belum lama ini memberikan beberapa data penting kepada penulis dan mengatakan bahwa selama periode itu pula, masyarakat sunni dipinggirkan dan tak mendapatkan banyak peran di pemerintahan. Artinya, hanya masyarakat yang berakidah Syiah yang ditempatkan pada pos-pos penting. Pasti ada “sesuatu” dibalik kebijakan yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut.

Belum lagi campur tangan militer Iran dalam konflik Suriah. Banyak sekali laporan-laporan media yang menyebut bahwa Iran mengirimkan ribuan tentara gardanya demi membantu Bashar Assad, saudara seakidahnya. Semakin jelas agenda negeri Syiah Iran dalam menancapkan kuku kotornya ke Timur Tengah.

Berikutnya Libanon. Kelompok Syiah yang berada di Libanon adalah Hizbullah yang dipimpin Hasan Nasrullah. Hizbullah sejak lama telah menyatakan dukungannya kepada pemerintah Bashar Assad dan tanpa malu-malu mengirimkan bantuan militer untuk memerangi pejuang revolusi Suriah. Sepertinya, penyerangan ke wilayah Qushair oleh tentara Assad dan Hizbullah menjadi puncak paling terlihat dari romantisme hubungan Assad dan Hizbullah.

Pasalnya, ketika Qushair diserang, sebagian warga Libanon tidak senang dengan keterlibatan Hizbullah atas konflik Suriah. Bahkan, seorang da’i Libanon, Syaikh Ahmad Al-Asir dengan berani menyerukan ajakan jihad guna membantu saudara-saudara seiman di Suriah. Hasilnya, kini suasana dalam negeri Libanon diliputi ketakutan yang mencekam, lantaran markas Syaikh Al-Asir digempur oleh milisi Hizbullah. Dua puluhan orang tewas dalam serangan tersebut.

Mari kita tarik garis lurus. Hizbullah tak lain adalah rekan kerja Iran di Libanon.

Dan akhirnya Mesir. Ketika kondisi politik negeri sungai nil tersebut sedang panas-panasnya, Syahatah dan komplotannya bergerilya menampakkan “madzhabnya”. Cela Abu Bakar, cela Umar dan cela Ummul Mu’minin. Umat Islam Mesir yang sebagian besar sunni, tak rela jikalau para sahabat mulia menjadi bahan injakan dari mulut-mulut tak beradab kaum Syiah.

Ancaman nyata Syiah

Kini, pasca tewasnya Hasan Syahatah, salah satu corong berita Iran menampilkan postingan penuh ancaman kepada kaum muslimin. Berikut salah satu petikan ucapan ulama Syiah :

Kepada seluruh kelompok takfiri diseluruh dunia. Saya katakan kepada kalian, “Dengarkan perkataan ini! Marjaiat Syiah memiliki kekuatan fatwa, yang ketaatan kepada fatwa mereka adalah kewajiban syar’i. Jika kalian melanjutkan tindakan-tindakan kesyetanan kalian, maka Maraji Syiah akan ikut masuk dalam medan yang akan merubah hari kalian menjadi gelap gulita. Pikirkan, apakah kalian punya kekuatan?” (http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=434568).

Shahatah terbunuh dalam sebuah insiden yang melibatkan kaum muslim Sunni. Takfiri yang dimaksud adalah kaum muslimin sunni yang militant, yang berpegang teguh dengan agamanya. Terlebih kelompok salafi yang begitu getol membongkar kesesatan Syiah.

Ancamannya jelas. Merubah hari kaum muslimin sunni menjadi hari yang penuh dengan kegelapan. Memberikan kesengsaraan dalam bentuk, tentu saja perang yang lebih nyata.

Akhir Kata

Kini saatnya kaum muslimin untuk bangkit. Benar-benar bangkit dalam artian mempersiapkan diri terhadap semua ancaman dari kelompok bikinan Yahudi ini. Jangan hanya tinggal diam menyaksikan berita mengerikan tentang Suriah dan Libanon.

Perang dengan Syiah bukan tidak mungkin terjadi. Bukankan dahulu kaum muslimin berperang dengan bangsa Persia?.

Bukankah Iran kini berdiri di tanah Persia?.

Bukankah mereka begitu bergembira dengan kematian Umar yang dibunuh oleh orang Majusi Persia?.

Dan bukankah salah satu cita-cita pendirian agama Syiah adalah untuk mengembalikan kejayaan Persia?. (arc)

Sumber: http://gemaislam.com/rubrik/aktualita/1290-ada-apa-dibalik-kematian-hasan-syahatah/

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Rabu, 3 Juli 2013/24 Sya’ban 1434H

Print Friendly