Said Aqil Siraj Menghina Jenggot, Secara Tidak Langsung Dia Menghina Pendiri NU , Bahkan Menghina Rasulullah

Kata Said Aqil Siradj perihal jenggot, “Semakin panjang semakin GOBLOK”

Said Aqil juga memberi contoh orang pintar (tidak berjenggot) yaitu Gusdur, Nurcholish Madjid dan Quraish Shihab, padahal nama-nama tersebut semuanya memiliki pemahaman islam yang bermasalah….

Sekarang mari kita perhatikan bagaimana jenggot Nabi beserta empat sahabatnya..

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم عظيم اللحية

Ali radhiyallahu’anhu berkata: Dahulu Rosulullah -shallallahu alaihi wasallam- adalah seorang yang besar jenggotnya [Riwayat Ahmad]

+ Jenggot Abu Bakr radhiyallahu’anhu,

عن عائشة قالت: كان (أبي) رجل أبيض، نحيف، خفيف العارضين

Aisyah mengatakan: Dulu bapakku adalah pria yang kulitnya putih, badannya ramping, dan jenggot bagian sampingnya tipis. (ath-Thobaqot al-Kubro 3/133) (al-Khulafa’ ar-Rosyidun, karya adz-Dzahabi 64) (Tarikhul Khulafa’, karya as-Suyuthi 45)

+ Jenggot Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu,

في عارضيه خفة, سبلته كبيرة

Umar bin Khottab adalah seorang yang tipis jenggot bagian pinggirnya, dan tebal jenggot bagian depanya (al-Khulafa’ ar-Rosyidun karya adz-Dzahabi 144) (Tarikhul Khulafa’, karya as-Suyuthi 138)

+ Jenggot Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu,

كان كبير اللحية, عظيمها

Utsman adalah seorang yang jenggotnya besar (at-Thobaqot al-Kubro 3/40)

طويل اللحية، حسن الوجه

Utsman adalah seorang yang jenggotnya panjang dan wajahnya tampan (al-Khulafa’ ar-Rosyidun karya adz-Dzahabi 278)

كان كثير اللحية

Utsman adalah seorang yang jenggotnya banyak (Tarikhul Khulafa’ karya as-Suyuthi 157)

+ Jenggot Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu,

أنه كان ضخم اللحية

Ali adalah seorang yang besar jenggotnya (at-Thobaqot al-Kubro 3/16)

كان عظيم اللحية. وقال الشعبي: رأيت عليا أبيض اللحية, ما رأيت أعظم لحية منه

Ali adalah seorang yang besar jenggotnya. Bahkan asy-Sya’bi mengatakan: “Aku telah melihat Ali, yang jenggotnya putih, tidak kulihat ada orang yang lebih besar jenggotnya darinya”. (al-Khulafa’ ar-Rosyidun, karya adz-Dzahabi 378)

—————

Nukilan diambil dari penjelasan Ustadz Musyaffa ‘Addariny, Lc, MA –

 

———-
Sumber: Asli Bumiayu – www.aslibumiayu.net – Rabu,16 September 2015/2 Dzulhijjah 1436H

Print Friendly