Segelintir Kebusukan Kelompok Nushairiyah atau Syiah Ismailiyah dalam Sejarah

Ada yang bertanya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang kelompok Nushairiyah atau Syiah Ismailiyah alias Qaramithah alias Bathiniyah yang sekarang lebih dikenal sebagai kelompok Alawi di Suriah. Di antara jawaban beliau rahimahullahu ta’ala,

Segala puji bagi Rabb pemilik alam semesta.  Mereka yang disebut sebagai Nushairiyah lebih kafir dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan, lebih kafir dari kebanyakan kaum musyrik.

Berbahayanya mereka bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar daripada bahaya orang-orang kafir yang tergolong kafir harbi [orang-orang kafir boleh yang diperangi kaum muslimin]—seperti orang kafir Mongol, Eropa, dan sebagainya. Sebab, Nushairiyah menampakkan diri seolah-olah mendukung dan mencintai ahlul bait di depan kaum muslimin yang tidak tahu apa-apa.

Pada hakekatnya, kelompok Nushairiyah tidak beriman kepada Allah, rasulNya, dan kitabNya. Nushairiyah juga tidak beriman akan adanya perintah dan larangan, pahala dan azab, Surga dan Neraka, serta tidak beriman terhadap seorang pun dari rasul-rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nushairiyah tidak beriman akan adanya agama sebelum Islam. Mereka mengambil sebagian firman Allah dan sabda Rasulullah yang ma’ruf di tengah ulama-ulama kaum muslimin untuk mereka selewengkan maknanya menjadi berbagai kedustaan dan mereka menganggap bahwa ini adalah ini adalah ilmu batin, sebagaimana yang disebut oleh penanya.

Nushairiyah tidak memiliki batas-batas tertentu terkait apa yang mereka yakini, mulai dari perbuatan menolak nama-nama dan ayat-ayat Allah sampai menyimpangkan kandungan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah. Mereka bermaksud menolak iman dan syariat Islam dengan segala cara selain menampakkan bahwa perkara-perkara itu memiliki hakekat yang mereka ketahui, sebagaimana yang telah disebutkan oleh penanya.

Menurut mereka shalat lima waktu adalah cukup dengan mengetahui rahasia-rahasia mereka. Puasa yang wajib adalah cukup dengan menyembunyikan rahasia-rahasia mereka. Haji ke Baitullah cukup dengan melakukan ziarah kepada syaikh-syaikh mereka.

يَدَا أَبِي لَهَبٍ

“…kedua tangan Abu Lahab…” (QS. Al Masad: 1) adalah Abu Bakar dan Umar. Dan bahwa

النَّبَإِ الْعَظِيمِ

“…berita yang besar” (QS. An Naba’: 2) serta

إِمَامٍ مُبِينٍ

“…dalam Kitab Induk yang nyata” (QS. Yasin: 12) adalah Ali bin Abi Thalib.

Terdapat bukti-bukti yang masyhur dan kitab-kitab yang menerangkan tentang permusuhan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Jika mereka memiliki kekuatan, niscaya akan mereka kerahkan untuk menumpahkan darah kaum muslimin, sebagaimana pembunuhan yang mereka lakukan kepada jamaah haji dan membuang mayat-mayat mereka ke sumur Zamzam. Mereka pernah mencuri Hajar Aswad dan disembunyikan beberapa waktu. Mereka bunuh para ulama, syaikh, dan kaum muslimin yang tidaklah tahu berapa jumlahnya kecuali hanya Allah ta’ala.

Nushairiyah menulis banyak kitab, seperti yang disinggung oleh penanya. Para ulama kita telah menulis kitab-kitab yang membongkar rahasia mereka dan menyingkap kedok Nushairiyah. Para ulama menjelaskan dalam kitab-kitab tersebut hakekat Nushairiyah dari itu kekufuran, kezindikan, dan penentangan terhadap Allah yang dengan itu mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Lebih kafir daripada pemeluk Hindu di India yang menyembah patung-patung. Apa yang disebut tentang sifat mereka [dalam pertanyaan yang diajukan penanya] adalah sedikit dari banyak lagi yang diketahui para ulama tentang sifat-sifat mereka.

Kita pun telah mengetahui bahwa pesisir Syam dapat jatuh ke tangan orang-orang Nasrani berkat ulah kelompok Nushairiyah. Mereka sejatinya—dengan semua itu—musuh bagi kaum muslimin. Nushairiyah bahu-membahu dengan orang-orang Nasrani memerangi kaum muslimin.

Termasuk musibah besar bagi Nushairiyah adalah dikuasainya pesisir Syam oleh kaum muslimin dan ditaklukkannya orang-orang Nasrani. Bahkan, termasuk musibah yang besar bagi mareka adalah kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Mongol.

Dan termasuk hari besar buat Nushairiyah adalah ketika orang-orang Nasrani dapat merebut perbatasan-perbatasan kaum muslimin—wal ‘iyadzubillah—karena memang perbatasan yang dimaksud masih berada di tangan-tangan kaum muslimin, seperti Pulau Siprus yang mudah-mudahan Allah permudah penaklukannya dalam waktu dekat. Dulu, kaum muslimin pernah menaklukkan pulau itu ketika mereka dipimpin oleh Khalifah Utsman bin Affan, melalui tangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan menguasainya sampai abad keempat hijriah.

Orang-orang Nushairiyah yang memusuhi Allah dan rasulNya banyak berkumpul di waktu itu di daerah pantai dan tempat-tempat lainnya. Karenanya, orang-orang Nasrani pun dapat mudah menguasai pantai-pantai. Lalu, dengan bantuan mereka, orang-orang Nasrani dapat menguasai Al Quds dan daerah yang lain. Perbuatan-perbuatan Nushariyah berperan besar dalam jatuhnya Al Quds ke tangan penguasa-penguasa Nasrani [dalam Perang Salib]. Ketika Allah membangkitkan penguasa-penguasa kaum muslimin dan pejuang-pejuang Islam seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin Al Ayyubi berikut para pendukungnya, pantai-pantai beserta segenap penduduk yang dikuasai Nasrani dapat direbut kembali.

Kaum muslimin juga dapat merebut Mesir. Mereka menguasai Al Quds dan Mesir selama 200 tahun. Atas sebab bergabungnya kelompok Nushairiyah dengan orang-orang Nasrani, maka Nushairiyah pun diperangi oleh kaum muslimin waktu itu sampai tertaklukkannya negeri-negeri. Sejak itu, Islam dapat menyebar ke seluruh penjuru Mesir dan Syam.

Orang-orang Mongol pun tidak dapat masuk ke negeri-negeri Islam [yang ada di wilayah Syam]. Orang-orang Mongol tidak dapat membunuh khalifah Bagdad dan sultan-sultan penguasa negeri kaum muslimin, kecuali lewat bantuan dan jaminan yang diberikan oleh kelompok Nushairiyah. Sesungguhnya, ahli nujum Hulagu Khan yang menterinya adalah Nashir Ath Thusi juga adalah menteri Nushairiyah di Alamut. Dan ialah yang memerintah untuk membunuh khalifah dan merebut kekuasaannya.

Terkadang, kelompok Nushairiyah disebut dengan Malahidah, Qaramithah, Bathiniyah, Ismailiyah, Nushairiyah, Khurramiyah, dan Mahmarah. Sebagian sebutan itu ada yang mewakili semuanya. Sebagian lain digunakan khusus untuk sebagian kelompok mereka, sebagaimana perbedaan antara makna Islam dan iman yang mencakup kaum muslimin. Dan sebagian Nushairiyah memiliki nama yang mengkhususkannya, baik itu nama yang berasal dari nasab keturunan, mazhab, negeri, dan sebagainya.

Penjelasan tentang maksud di balik penamaan tersebut sangat panjang untuk disebutkan di sini. Akan tetapi, sebagaimana yang dikatakan para ulama tentang Nushairiyah, secara lahir mazhab mereka adalah Rafidhah dan secara batin mazhab mereka adalah kafir tulen.

Dan hakekat mereka, mereka tidak beriman kepada satu pun nabi dan rasul. Tidak beriman kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa [‘alaihi ash shalatu was salam]. Tidak pula kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nushairiyah tidak mengimani kitab-kitab yang Allah turunkan, baik Taurat, Injil ataupun Al Qur-an. Mereka tidak mengakui bahwa ada Sang Pencipta alam semesta. Dan mereka pun tidak mempercayai adanya agama yang mereka diperintah untuk menganutnya. Mereka juga meyakini tidak adanya alam lain untuk membalas apa yang telah diperbuat manusia selain alam dunia ini.

Terkadang, mereka bangun akidah mereka itu dari aliran-aliran filsafat tabi’i [filsafat tentang alam semesta] dan filsafat ilahi [filsafat entang eksistensi ketuhanan]. Mereka bangun akidah mereka dari perkataan-perkataan orang-orang Majusi yang mereka itu menyembah cahaya. Dan Nushairiyah masukkan akidah Rafidhah dalam itu semua.

Sumber: ‘Amir Al Jazzar & Anwar Al Baz (Eds). Majmu’ah Al Fatawa li Syaikhil Islam Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al Harrani: Al Juz XXXV (Cet. Ke-2). Al Manshurah: Darul Wafa’ li Ath Thiba’ah wan Nasyr. 1426H/2005M, halaman 91-93.

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Sabtu,31 Oktober 2015/17 Muharram 1437H

Print Friendly