Syarat untuk Menjadi Dai dan Menyebarkan Dakwah Islam

Ketika menjelaskan kitab Taisir Al ‘Aziz Al Hamid karya Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, Syaikh Abdul Azin bin Abdillah bin Baz rahimahullahu ta’ala mengatakan:

 

Dan ini jelas.

 

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakan, ‘Inilah jalanku yang aku berdakwah kepada Allah di atas bashirah. Aku dan orang-orang yang mengikutiku’.” (QS. Yusuf: 108)

 

Maka, jalan Allah yang itu jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdakwah kepada Allah dengan ilmu dan hidayah, sehingga jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah firmankan di dalamnya,

 

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ

“Katakan, ‘Inilah jalanku yang aku berdakwah kepada Allah’”

 

telah diterangkan pada firmanNya,

 

أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“…aku berdakwah kepada Allah di atas bashirah.”

 

Jadi, jalan para rasul—yang dipimpin oleh nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah berdakwah kepada Allah di atas ilmu dan bashirah. Bukan di atas kebodohan dan kesesatan. Mereka berdakwah di atas bashirah dan ilmu tentang apa yang mereka dakwahkan kepadanya dan apa yang mereka larang. Seperti inilah para dai yang menyeru kepada Allah.

Adapun para dai dan dakwah dengan kebodohan, maka mereka merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Mereka memberikan mudharat lebih banyak daripada memberikan manfaat. Karenanya, wajiblah dakwah itu di atas bashirah. Maksudnya, di atas ilmu. Atau, ia mempelajari apa yang ia dakwahkan. Ia mengilmui apa yang ia dakwahkan. Ia mengetahui dalilnya. Kemudian, ia berbicara. Sama saja: apakah itu terkait dengan masalah tauhid dan syirik atau dengan masalah-masalah lainnya dari masalah-masalah agama.

Karena itu, setiap dai harus mengilmui apa-apa yang ia dakwahkan. Harus mengilmui dalil tentang apa-apa yang ia larang. Jangan sampai ia melarang atau ia berdakwah tanpa ilmu. Jangan sampai ia mendakwahkan apa yang menyelisihi syariat Allah. Bahkan, sudah harus menjadi hak wajib bagi seorang dai untuk memiliki ilmu dan inilah yang dimaksud dengan bashirah di sini.

 

Dan maksud dari bashirah di sini adalah ilmu, sehingga sudah seharusnya seorang dai memiliki ilmu terkait dengan apa yang ia dakwahkan dan ia memiliki bukti dari syariat Allah atas apa yang ia serukan kepadanya serta ia larang darinya. Jangan sampai ia berdakwah di atas kebodohan dan jangan pula ia mengingkari apa yang haq dan berdakwah kepada sesuatu yang batil karena kebodohannya.

RUJUKAN: Abdus Salam bin Abdillah Alu Sulaiman (Ed). Al Fawa-id Al ‘Ilmiyyah min Ad Durus Al Baziyyah: Fawa-id min Syarh Taisir Al Aziz Al Hamid; Durus ‘Ilmiyyah Syarahaha Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Juz III. Beirut: Dar Ar Risalah Al ‘Ilmiyyah. 1430H/2009M, halaman 11-12.

 

 

 

———-
Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Selasa,24 Maret 2015/3 Jumadil Akhir 1436H

Print Friendly