Kebodohan Dalam Agama

Kebodohan termasuk sebab kesesatan yang paling besar, tidak sebatas sesat diri namun menyesatkan orang lain. Bahaya kebodohan, lebih-lebih pada seseorang yang diikuti, dipaparkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin Amru berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضّلُّوا “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia secara langsung, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama, orang-orang mengangkat para pemimpin… ...[Baca selengkapnya]..........

Belajar Tanpa Campur Baur

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah Serombongan wanita sahabiyah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kabar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Mereka datang untuk mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon jalan keluarnya. غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ. فَكاَنَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُمُ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ “Kaum lelaki mengalahkan kami untuk mendapatkan ilmu darimu (karena banyaknya lelaki di majelismu). Oleh karena itu, mohon tentukanlah untuk kami satu hari yang engkau… ...[Baca selengkapnya]..........

Bahaya Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Alangkah banyak sekarang ini orang-orang yang lancang, tanpa rasa takut mereka berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla atau atas nama agama, tanpa ilmu. Padahal Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah perkara yang lebih besar dari kesyirikan. Berikut ini kami bawakan nukilan penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hal di atas. Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam fatwa dan memutuskan hukum, serta menjadikannya sebagai perkara haram yang paling besar, bahkan pada tingkatan tertinggi. Allah ‘azza wa jalla berfirman, قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ… ...[Baca selengkapnya]..........

Kedudukan Ahlul Ilmi dalam alQuran dan Assunnah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan)   Allah l dan Rasul-Nya n banyak menyebutkan keutamaan ilmu dan ahlul ilmi dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata (Kitabul ‘Ilmi, hal. 13): “Yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu yang Allah l turunkan kepada Rasul-Nya n, berupa bayyinah (penjelas) dan huda (petunjuk). Maka, ilmu yang mengandung pujian dan keutamaan adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah l turunkan. Nabi n bersabda: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah l kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah l akan… ...[Baca selengkapnya]..........

Adab Menyertai Ilmu

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata, Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu menyalati jenazah. Setelah itu, seekor bagal didekatkan untuk beliau naiki. Datanglah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengambil tali kekangnya sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap ilmu dan keutamaan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Zaid pun berkata kepada Ibnu Abbas, “Lepaskan tali itu darimu, wahai sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab, “Tidak. Demikianlah yang kami lakukan terhadap ulama dan para pembesar.”   Abu Zakariya Yahya bin Muhammad al-‘Anbari rahimahullah mengatakan, “Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar. Adapun adab tanpa ilmu ibarat ruh tanpa jasad.”   Abdullah bin Ahmad bin… ...[Baca selengkapnya]..........

Ilmu adalah Takut kepada Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal) “Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah ulama.” (Fathir: 28) Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat “Sesungguhnya hanyalah.” Lafadz ini menunjukkan pembatasan. Pembatasan dalam satu kalimat bermakna istitsna’ (pengecualian/pengkhususan). Adapun istitsna’ dalam konteks kalimat penafian, menurut jumhur ulama, mengandung makna penetapan (itsbat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 16/177) “Ulama.” Ia adalah bentuk jamak dari alim. Yang dimaksud adalah orang yang berilmu tentang syariat Allah l serta mengerti tentang hukum halal dan haram. Inilah yang dimaksud ilmu apabila disebut secara mutlak (tanpa pengait) dalam kitabullah dan sunnah Rasul n. Ini pula… ...[Baca selengkapnya]..........

Kebodohan Merusak Kebersamaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed) Orang-orang yang cerdas dan berilmu niscaya mengetahui betapa pentingnya kebersamaan. Sehingga mereka benar-benar menjaga kebersamaan dalam jamaah kaum muslimin dan penguasa (pemerintah)-nya. Adapun orang-orang yang bodoh, sama sekali tidak mengerti betapa pentingnya kehidupan berjamaah dengan satu penguasa. Bahkan mereka tidak mengerti mana yang lebih banyak antara satu dan sepuluh. Yakni, mana yang lebih besar antara korupsi, kolusi, atau nepotisme (KKN) dengan pertumpahan darah kaum muslimin dalam perang saudara. Seorang yang berilmu mengetahui bahwa dengan mengikuti bimbingan Sunnah Rasulullah n berikut penerapannya yang dicontohkan salafus shalih, pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yang terbaik.… ...[Baca selengkapnya]..........

Merasa Cukup

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah) Tak ada satu makhluk melata pun melainkan Allah l telah menanggung dan memberi rezekinya. Dia nyatakan hal ini dalam Tanzil-Nya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Hud: 6) Dia Yang Maha Pemberi Rezeki dengan nama-Nya yang husna, Ar-Razzaq, telah membagi-bagikan rezeki tersebut kepada hamba-hamba-Nya. Dia juga telah mencatatnya sejak mereka masih dalam kandungan sang ibu. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud z berikut ini. حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ… ...[Baca selengkapnya]..........

Larangan Berfatwa Tanpa Bimbingan Salafushshalih

Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah n ataupun para sahabat beliau n, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah n telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah l, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah l tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.” Al-Imam Ahmad t berkata kepada sebagian muridnya: “Hati-hati engkau, (jangan, -pen.) mengucapkan satu masalah pun (dalam agama pen.) yang engkau tidak memiliki imam (salaf, -pen.) dalam masalah tersebut.”… ...[Baca selengkapnya]..........

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anha suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ ‘Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki kebaikan baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama’.” Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh asy-Syaikhani, al-Imam al-Bukhari dalam beberapa tempat pada kitab Shahihnya (no.71, 3116, 7312) dan al- Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 1038)   Kebaikan yang Hakiki Banyak orang menyangka bahwa harta yang melimpah, pangkat dan jabatan serta status sosial yang dimiliki merupakan tanda kecintaan Allah subhanahu… ...[Baca selengkapnya]..........

Ciri-ciri ‘Ulama

Mengenal ciri-ciri ulama yang benar adalah sangat penting. Karena di negeri kita, banyak orang yang hanya karena pandai berbicara dan melawak, bisa dianggap sebagai ulama. Padahal tak jarang di antara mereka setelah memiliki pengikut banyak kemudian berubah haluan menjadi seorang politikus. Gelar ulama bukanlah gelar yang mudah untuk disandang dan dipajang dalam bingkaian nama seseorang. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ulama bukanlah sebuah gelar yang bisa dicari dalam jenjang pendidikan tinggi dengan nilai ijazah yang mumtaz (terbaik), bukan pula gelar yang dicari dan didapatkan dengan jumlah pengikut yang setia dan banyak. Sekali… ...[Baca selengkapnya]..........

Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah) Allah l berfirman, “Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia… ...[Baca selengkapnya]..........