Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan:  Dengan rasa hormat kami meminta kepada Syaikh agar menjelaskan kepada kami tentang hukum seorang laki-laki jika ia mencium istrinya dengan syahwat, atau tanpa syahwat, atau ia menyentuhnya secara langsung, (dengan kata lain) kulit laki-laki bersentuhan dengan kulit perempuan, apakah hal itu membatalkan wudhu? Jawaban: Permasalahan ini adalah permasalahan yang mana para ulama berselisih pendapat tentangnya, pendapat mereka terbagi menjadi tiga: Pendapat pertama: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu, adapun makna dari firman Allah ta’ala: (أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ) “ Atau kamu telah menyentuh perempuan ” (QS. An-Nisa: 43), adalah jima’, dan bukan hanya sekedar menyentuh. Maka menurut pendapat ini, menyentuh wanita… ...[Baca selengkapnya]..........

Hukum Bisikan-Bisikan Jiwa Terhadap Perkara-Perkara Jelek

Pertanyaan:  Apa hukum pada bisikan jiwa (was-was), jika ia membisikan perkara-perkara jelek, sehingga seseorang merasa resah dan gundah karena takut dari bisikan-bisikan tersebut. hal ini (mungkin) karena ia tidak meyakini dan tidak melakukan perkara-perkara itu. Hal tersebut adalah perkara di luar kehendaknya, yang jiwanya membisikan hal itu padanya. Apakah dia akan dihukum karena hal itu? Jawaban: Was-was tidak membahayakan seseorang, dan ia tidak akan dihukum karenanya selama ia tidak berucap dan tidak melakukannya, hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا… ...[Baca selengkapnya]..........

Mengganti Nama Setelah Masuk Islam

Apakah boleh bagi seseorang yang baru masuk islam mengganti namanya? Jawab: Jika seorang non muslim masuk Islam, maka tidak wajib baginya untuk mengganti namanya, kecuali jika nama tersebut nama yang dibenci, seperti (حُزْنٍِ): “Kesedihan”, atau nama yang mengandung arti penghambaan terhadap selain Allah, seperti (عَبْدُ المَسِيْحِ): “Hamba al-Masih”, atau (عَبْدُ الكَََعْبَةِ): “Hamba ka’bah”, atau yang selainnya dari nama yang diharamkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merubah sebagian nama sebagian orang (para shahabat) yang mengandung dua hal tersebut (dari nama-nama yang dibenci dan yang diharamkanm -red). [Sumber: Al-Muntaqa Min Fatawa fadilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan jilid 1/433-434]           ———-… ...[Baca selengkapnya]..........

Hukum Tidak Berpuasa Karena Alasan Pekerjaan

Pertanyaan: Apa pendapat anda terhadap seseorang yang memiliki profesi yang berat sehingga sulit baginya untuk berpuasa, apakah ia boleh berbuka (tidak berpuasa)? Jawaban: Saya berpendapat dalam kasus semacam ini bahwa berbuka (tidak berpuasa) karena alasan pekerjaan hukumnya adalah haram dan tidak boleh. Apabila dirinya tidak bisa menggabungkan antara pekerjaan dan puasa hendaknya ia mengajukan cuti libur selama bulan Ramadhan agar bisa berpuasa Ramadhan. Dimana puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun islam yang tidak boleh ditinggalkan. (Fatawa Arkan Al-Islam, Ibnu Utsaimin, 5/3) ———- Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Kamis,19 Juni 2014/20 Sya’ban 1435H… ...[Baca selengkapnya]..........

Orang Yang Meninggal Dengan Menanggung Qadha’ Puasa

Pertanyaan Jika seseorang meninggal dengan mempunyai utang puasa Ramadhan, apakah boleh dipuasakan untuknya atau qadha’ itu hanya untuk hari-hari yang dinadzarkan saja? Jawaban Imam Ahmad berpendapat, bahwa qadha’ itu hanya untuk yang dinadzarkan, adapun yang fardhu tidak perlu diqadha’kan untuk orang yang telah meninggal dunia, tapi cukup dengan menyedekahkan dari harta yang ditinggalkannya sebanyak setengah sha’ untuk setiap hari puasa yang terlewatinya. Imam Ahmad berdalih dengan hadits: لاَ يَصُوْمُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَا يُصَلِّيْ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ “Tidaklah seseorang berpuasa atas nama orang lain dan tidaklah seseorang shalat atas nama orang lain.” (HR. Malik, kitab ash-Shiyam, Kitab An-Nadzr fish shiyam… ...[Baca selengkapnya]..........

Membaca al-Qur’an Di Rumah Selepas Shalat Subuh Sampai Terbit Matahari

Pertanyaan: Berdiam di rumah setelah menunaikan shalat subuh untuk membaca al-Qur’an sampai terbit matahari kemudian dilanjutkan shalat syuruq dua rekaat. Apakah orang yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan pahala yang sama sebagaimana ketika dia berdiam di Masjid. Kami sangat mengharapkan penjelasan anda, semoga Allah I memanjangkan umur anda dalam ketaatan kepada-Nya. Jawaban: Perbuatan tersebut adalah suatu kebaikan dan mengandung pahala yang besar. Akan tetapi dari zahir hadits-hadits yang ada tentang masalah ini menunjukkan bahwa dia tidak mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang dijanjikan kepada orang yang berdiam di tempat shalatnya di Masjid (untuk berdzikir dan shalat sampai terbit matahari). Akan… ...[Baca selengkapnya]..........

Memotong Kuku Dan Memendekan Kumis, Rambut Kemaluan, Dan Ketiak Si Mayit

Pertanyaan: Apa hukum memotong kuku mayat, mencukur kumisnya, mencabut bulu ketiaknya, dan mencukur rambut kemaluannya? Jawaban: Menurut para ulama, memotong kuku mayat, memotong bulu yang disyariatkan untuk dipotong seperti bulu kemaluan, ketiak, kumis apabila terlihat panjang adalah baik. Namun bila tidak terlihat panjang, maka hendaknya dibiarkan saja dan tidak perlu dipotong. [Sumber: Fatwa-fatwa Lengkap Seputar Jenazah [Edisi Indonesia], Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Disusun oleh Syaikh Fahd bin Nashir as-Sulaiman, Pustaka Darul Haq Jkt]. ———- Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,24 April 2013/13 Jumadil Akhir 1434H… ...[Baca selengkapnya]..........

Hukum Kurban Yang Dikhususkan Pahalanya Buat Mayit

Pertanyaan: Apakah disunnahkan berkurban, yang mana pahalanya di peruntukan misalkan buat bapak secara khusus (jika) telah meninggal? Jawaban: Bukan termasuk sunnah jika seseorang berkurban untuk mayit secara khusus. Yang disunnahkan adalah seseorang berkurban untuk dirinya dan keluarganya. Jika ia meniatkan bagi keluarganya yang hidup dan yang telah meninggal, maka Allah sangat luas keutaannya (anugrahnya), dan hal itu tidak mengapa. Namun jika ia mengkhususkan orang yang telah meninggal saja, tanpa mengikutkan orang masih hidup, maka hal itu bukan dari sunnah, dan belum ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berkurban yang diperuntukan pahalanya bagi seseorang yang telah meninggal secara… ...[Baca selengkapnya]..........

Wajib Mentaati Suami Dalam Perbuatan Baik

Pertanyaan: Saya pergi untuk berhaji, namun suami saya tidak mengizinkannya. Bahkan dia sempat berkata bahwa tidak akan pernah mengizinkan saya dan tidak mau menyetujuinya, sementara saya adalah seorang perempuan yang sangat suka untuk beribadah haji. Kewajiban manakah yang harus saya utamakan, mentaati suami atau pergi berhaji? Jawaban: Apabila haji itu adalah haji fardhu, maka yang wajib bagi anda adalah melaksanakan perintah Allah, yaitu menunaikan haji fardhu jika anda sudah memiliki kemampuan meskipun suami anda tidak mengizinkannya. Namun apabila haji itu adalah haji sunnah, maka anda tidak boleh menunaikan haji tersebut. Anda tidak boleh berhaji, melakukan safar, atau keluar dari rumah… ...[Baca selengkapnya]..........

Menyikapi Dua Hadits Yang Bertentanggan Dalam Masalah Puasa 1-9 Dzulhijjah

Pertanyaan: Dikatakan bahwa puasa dari tanggal 1-9 bulan Dzulhijjah sunnah, namun ada sebuah hadits yang menafikan tentang hal itu, yaitu hadits yang bersumber dari ummul mu’minin ‘Aisyah, bagaimana menyatukan dua pendapat tersebut? Jawaban:  Perselisihan tentang apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari pertama bulan dzulhijjah telah terjadi perbedaan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah beliau berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijah atau tidak? Telah disebutkan (pada pembahasan lalu) bahwa telah datang riwayat dari sebagian istri beliau dan juga hadits yang bersumber dari Hafshah radhiyallahu ‘anha yang berbunyi: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم تسع… ...[Baca selengkapnya]..........

Hukum Melaknat Pelaku Maksiat Dan Seorang Yang Dhalim

Pertanyaan: Apakah boleh melaknat orang yang berbuat maksiat atau seseorang yang berbuat dhalim, yang mana ia mendhalimi saya dengan perkataan dan perbuat, kemudian aku melaknatnya, apakah hal itu bolah? Jawaban: Tidak pantas bagi seorang muslim banyak melaknat, berkata dan berbuat keji, wajib baginya menjaga lisan dari cacian dan makian, walaupun orang mencacinya, hendaknya ia tidak membalasnya dengan semisalnya, ini sesuai dengan firman Allah ta’ala: { وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } [ فصلت : 34 . ] Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. (QS. Fushilat:34) Dan bisa jadi orang… ...[Baca selengkapnya]..........

Sifat Doa Untuk Jenazah Anak Kecil Dan Orang Gila

PERTANYAAN:  Bagaimana sifat doa untuk jenazah anak kecil dan orang gila? JAWABAN:  Para ulama menyebutkan bahwa sifat doa untuk jenazah anak kecil atau orang gila setelah doa umum, ia membaca, اَللّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِوَالِدَيْهِ وَذُخْرًا وَشَفِيعًا مُجَابًا اَللّهُمَّ ثَقِّلْ بِهَا مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ اْلمُؤْمِنِينَ وَاجْعَلْهُ فيِ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ جَهَنَّمَ “Ya Allah, jadikan dia mendahului (yang menunggu) kedua orang tuanya, simpanan dan pemberi syafaat yang dikabulkan. Ya Allah, beratkanlah timbangan pahala keduanya dengan (kematian)nya dan besarkanlah pahala keduanya dengan (kematian)nya. Ikutkan dia dengan orang shalih generasi terdahulu orang-orang yang beriman. Jadikanlah dia dalam jaminan… ...[Baca selengkapnya]..........