Syarat untuk Menjadi Dai dan Menyebarkan Dakwah Islam

Ketika menjelaskan kitab Taisir Al ‘Aziz Al Hamid karya Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, Syaikh Abdul Azin bin Abdillah bin Baz rahimahullahu ta’ala mengatakan:   Dan ini jelas.   قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي “Katakan, ‘Inilah jalanku yang aku berdakwah kepada Allah di atas bashirah. Aku dan orang-orang yang mengikutiku’.” (QS. Yusuf: 108)   Maka, jalan Allah yang itu jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdakwah kepada Allah dengan ilmu dan hidayah, sehingga jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah firmankan di dalamnya,   قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ “Katakan, ‘Inilah… ...[Baca selengkapnya]..........

Muamalah dengan Kelompok Sesat, Ahlul Bid’ah, dan Para Pelaku Maksiat

Pertanyaan: Bagaimana cara bermuamalah dengan orang-orang kelompok Batiniyah dan ahlul bid’ah yang hidup bersama kami di masyarakat? Jika mereka sebagai pelajar atau guru? Jika mereka sebagai dokter atau perawat? Jika mereka sebagai rekan-rekan kerja? Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menjawab: Siapa saja yang mengumumkan kebidahannya, wajib untuk di-hajr [dikucilkan]. Siapa yang mengumumkan bid’ah ghuluw-nya [bid’ah ekstrem] terhadap ahlul bait, Ali, Fatimah dan keturunannya serta ghuluw terhadap para sahabat rasul, maka ia di-hajr. Sebab mengibadahi ahlul bait dan ghuluw kepada para sahabat rasul dengan cara mengibadahi mereka selain Allah, maka ia telah kafir dan murtad dari Islam. Siapa… ...[Baca selengkapnya]..........

Ada Yang Bingung Dengan Istilah SALAFI, Ada Pula Yang Sok Tahu , Bahkan Memberikan Sebutan WAHABI..

Mengenal Salaf dan Salafi Para pembaca yang budiman -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam. Lalu apa itu sebenarnya salaf? Dan apa itu salafi? Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya. Pengertian Salaf Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai… ...[Baca selengkapnya]..........

Cukupkah Sebutan MUSLIM Saja, Atau AHLUSUNNAH Saja? Untuk Saat Ini, TIDAK CUKUP,. Kenapa?

Sebut Saja Muslim, Bukan Salafy Allah telah menamakan kita Muslim, lalu mengapa menisbatkan diri kepada Salaf? Keraguan ini telah dijawab dengan sangat indah oleh Imam Al-Albani dalam diskusinya dengan seseorang pada topik ini, direkam dalam kaset dengan judul “Saya Salafi” (Ana Salafi), dan berikut adalah pemaparan bagian penting dari diskusi tersebut. —- Syaikh Al-Albani: “Jika ditanyakan kepadamu, “Apa madzhabmu?”, apa jawaban anda? Penanya: “Saya seorang Muslim” Syaikh Al-Albani: “Itu tidak cukup.” Penanya: “Allah telah menamakan kita dengan sebutan Muslim“, lalu penanya membacakan ayat Allah Subhanahu Wata’ala (yang artinya) “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS Al-Hajj… ...[Baca selengkapnya]..........

Hukum Mengucilkan Orang-Orang Fasik

Pertanyaan: Apakah boleh mengucilkan orang-orang yang bersaksi palsu? Apakah boleh shalat [bermakmum] di belakangnya, jika ia menuduh seorang muslim dengan kezaliman?   Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullah menjawab: Mengucilkan orang fasik dan menjauh dari bermuamalah dengannya—sebagai bentuk pelajaran untuknya—boleh [hukumnya]. Intinya, mengucilkan itu bagi orang fasik, jika ber-mashlahat dan tidak mengundang mudharat yang lebih besar. Wallahul muwaffiq. Rujukan: Fathu Rabbil Wadud fi Al Fatawa wa Ar Rasa-il wa Ar Rudud: Juz I, halaman 43. ———- Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Rabu,11 Maret 2015/20 Jumadil Awal 1436H… ...[Baca selengkapnya]..........

3 Catatan Penting terkait “SIAPA YANG TIDAK MEMVONIS MUBTADI’ BERARTI IA JUGA MUBTADI’!”

Tentang kaedah “Siapa yang tidak memvonis mubtadi’, maka ia pun mubtadi’,” Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullahu ta’ala pernah menjelaskan, Pernyataan tersebut terkait dengan beberapa hal. Pertama: ilmu. Sebab, siapa yang tidak berilmu tentang bid’ah dan tidak mengetahui bahwa itu bid’ah, maka tidak boleh memvonis mubtadi’ di atas ketidaktahuannya itu. Jangan ia katakan, “Mubtadi’“. Demikian pula, tidak disyaratkan untuk setiap orang itu tahu, sehingga setiap orang memvonisnya mubtadi’. Kedua: letak pernyataan tersebut adalah setelah ditegakkannya hujjah kepada pelaku bid’ah. Jika itu sudah dilakukan dan ia tetap di atas kebidahannya, maka ia mubtadi’. Adapun siapa saja yang jatuh ke dalam bid’ah,… ...[Baca selengkapnya]..........

Setahun Sebelumnya Agar Lulus UN Para Siswa Mendatangi Kuburan, Meminta Di Kuburan, Ini Adalah Kesyirikan,..

Na’udzubillah, Demi Lulus UN (Ujian Nasional) Siswa Berbondong-bondong ke Kuburan Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam barisan orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah agar kita semua diberi kekuatan untuk bisa istiqomah di atas tauhid sampai mati. Semua umat Islam sepakat bahwa syirik adalah dosa yang sangat besar, yang tidak akan Allah ampuni jika dibawa sampai mati dan pelakunya belum bertaubat. Namun sayangnya banyak orang yang tidak memahami pengertian yang tepat tentang syirik. Akibatnya, banyak orang yang melakukan perbuatan syirik namun dia tidak merasa kalau dirinya telah melakukan kesyirikan. Kita ucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,… ...[Baca selengkapnya]..........

Jika Ada Orang Non-Muslim Mengajak Kita Salaman

Pertanyaan: Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Anda. Jika orang-orang kafir menyodorkan tangan mereka untuk bersalaman, apakah saya tolak? Syaikh Shalih bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjawab: Jika mereka mengucapkan salam dan menyodorkan tangan mereka kepadamu, maka jabatlah tangan mereka. Yang seperti itu tidak mengapa. Adapun jika engkau yang memulai salam dan mengajak jabat tangan, maka ini tidak boleh. RUJUKAN: Syaikh Shalih bin Abdillah Al Fauzan. Syarh Nawaqidh Al Islam li Syaikhil Islam Muhammad bin Abdil Wahhab. Kairo: Dar Al Imam Ahmad. 1427H/2006M, halaman 41-42. ———- Sumber: DakwahIslam.Net – www.dakwahislam.net – Kamis,19 Maret 2015/28 Jumadil Awal 1436H… ...[Baca selengkapnya]..........

Menyikapi-Fatwa Dua Ulama yang Berbeda

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya tentang apa yang terjadi pada perbedaan fatwa seorang ulama dengan ulama yang lain terkait satu permasalahan. Apa penyebabnya? Bagaimana [pula] sikap orang yang meminta fatwa-fatwa tersebut? Beliau rahimahullah menjawab:   Penyebabnya ada dua hal. Pertama, ilmu. Terkadang, salah seorang mufti belum memiliki ilmu yang ada pada mufti yang lain, sehingga mufti yang lain itu lebih luas dalam telaahnya daripada mufti yang pertama tadi. Ia menelaah apa yang belum ditelaah oleh mufti lainnya. Kedua, pemahaman. Sebab, manusia memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Kadang, dalam ilmu sama, tetapi berbeda dalam memahami. Jadi, Allah ta’ala memberi kepada… ...[Baca selengkapnya]..........

Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan Quthbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah? (HUKUM MEMVONIS AHLUL BID’AH SECARA UMUM)

Pertanyaan: Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh dan Quthbiyah bagian dari ahlus sunnah atau bukan? Apakah boleh bekerja sama dengan mereka? Apakah boleh bagi kami untuk memboikot dan tidak mengucapkan salam kepada mereka? Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullahu ta’ala menjawab: Yang lebih baik, dihukumi jamaah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh dan Quthbiyah dari sisi manhaj mereka. Manhaj mereka bukanlah manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Adapun untuk hukum perorangan, sebagian orang ada yang terpengaruh dan ia seorang Salafi. Mereka datang kepada orangnya mengatas-namakan membela agama Allah, sehingga ia pun berjalan dengan mereka dalam keadaan tidak tahu apa manhaj mereka. Maka,… ...[Baca selengkapnya]..........

Perilaku-Perilaku Jahiliyyah yang Harus Betul-Betul Dijauhi Seorang Muslim (Bagian Kedua)

Perkara-perkara jahiliyyah berikutnya yang harus diketahui oleh seorang muslim, seperti dikatakan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala dalam Masa-il Al Jahiliyyah, adalah: Perkara keempat, agama orang-orang jahiliyyah dibangun di atas sejumlah dasar. Yang paling utamanya adalah sikap taklid. Dan itu sebuah kaedah yang paling besar bagi seluruh orang-orang kafir dari pertama sampai terakhir mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ “Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun di satu negeri kecuali orang-orang yang hidup mewah di situ… ...[Baca selengkapnya]..........

Lemah-Lembut kepada Kawan dan Lawan

Dalam salah satu risalah ilmiahnya, Syaikh Shalih bin Sa’ad As Suhaimi hafizhahullahu ta’ala menyebutkan, Sesungguhnya, lemah-lembut dalam bergaul di setiap perkara dan permasalahan adalah akhlak yang mulia. Dan Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang maha lembut, mencintai kelembutan dalam setiap perkara. Dan kelemah-lembutan tidaklah ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Tidaklah dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. Sesungguhnya Allah memberi ke dalam kelemah-lembutan apa yang tidak diberikan ke dalam sikap kasar dan juga pada apa yang selainnya. Lemah lembut adalah akhlak yang mulia ketika di tengah-tengah manusia, sampai pun ketika bersama orang-orang kafir. Orang-orang Yahudi betul-betul pernah mengatakan kepada Nabi… ...[Baca selengkapnya]..........