Tayammum

Tayammum adalah thaharah (penyucian) wajib dengan menggunakan tanah sebagai pengganti wudhu dan mandi bagi orang yang memang tidak memperoleh air atau sedang dalam kondisi berbahaya bila mengguna-kan air. Tata Cara Tayammum Niat bertayammum sebagai pengganti wudhu atau mandi kemudian menepukkan kedua telapak tangan pada tanah atau yang berhubungan dengannya seperti tembok, lalu mengusap wajah dan kedua tangan.… ...[Baca selengkapnya]..........

Darah Nifas Mengalir Kembali Setelah Empat Puluh Hari

Tanya : Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya: Jika seo-rang wanita telah mandi setelah habisnya masa nifas, kemudian darah nifas itu kembali mengalir setelah empat puluh hari dari masa persalinan, dan wanita itu yakin bahwa darah itu adalah darah nifas, maka apa yang harus dilakukan wanita itu? Jawab : Kami berpendapat bahwa wanita itu harus meninggalkan puasa dan shalat saat ia mengeluarkan darah nifas setelah empat puluh hari, karena yang benar adalah bahwa nifas tidak memiliki batas masa waktunya, dan darah yang disebut dalam pertanyaan bukan darah istihadhah, maka jika darah itu telah jelas sebagai darah nifas dengan tidak memiliki ciri keruh… ...[Baca selengkapnya]..........

Sifat Mandi Junub Dan Perbedaan Dengan Mandi Haidh

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah ada perbedaan antara mandi junub seorang pria dengan mandi junub seorang wanita? Dan apakah seorang wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuang berdasarkan suatu hadits? Apa bedanya antara mandi junub dengan mandi haidh? Jawab : Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiallaahu ‘anha, bahwa ia… ...[Baca selengkapnya]..........

Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran Atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh

Tanya : Syaikh Ibnu As-Sa’di ditanya: Bila wanita hamil mengalami goncangan, namun ia tidak tahu apakah kandungannya kegugu-ran dalam keadaan ia haidh, sementara ia pun telah meminum obat untuk membersihkan bekas keguguran. Bagaimana hukumnya? Jawab : Jika telah diketahui kehamilannya, maka terlebih dahulu harus diketahui dengan pasti bahwa di dalam perutnya tidak ada lagi sesuatu, baik itu berupa bekas keguguran, ataupun dengan berselangnya waktu yang cukup lama yang bisa memastikan bahwa dirinya tidak hamil. Untuk masa tersebut, di antara ulama ada yang berpendapat selama empat tahun, ada pula yang mengatakan; harus diyakini kepastiannya selama kurang lebih empat tahun. Demikianlah pendapat… ...[Baca selengkapnya]..........

Bolehkah Orang Yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah orang yang junub boleh tidur tanpa berwudhu terlebih dahulu? Jawab : Tidak ada dosa baginya untuk tidur sebelum berwudhu, akan tetapi yang lebih utama adalah hendaknya ia berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur, karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu dan memerintahkannya. ———- Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Rabu,31 Maret 2004/9 Safar 1425H… ...[Baca selengkapnya]..........

Bagaimana Shalat Orang Yang Mengidap Penyakit Kencing Netes?

TANYA: Saya mengidap penyakit kencing netes yang akut (kontinyu); kapan saya harus berwudhu untuk melaksanakan shalat lima waktu, demikian pula, kapan saya harus berwudhu untuk shalat Jum’at? JAWAB: Siapa saja yang mengidap penyakit kencing netes akut (kontinyu), maka ia berwudhu ketika hendak shalat, lalu langsung shalat saat itu. Jika ada sesuatu keluar ketika sedang shalat, maka shalatnya sah. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala, فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampu kamu.” (QS. at-Taghabun:16) Demikian pula pada hari Jum’at, maka hendaknya ia berwudhu ketika hendak shalat, lalu shalat bersama imam. Akan tetapi ia harus meletakkan sesuatu pada… ...[Baca selengkapnya]..........

Bolehkah Orang Yang Junub Tidur Sebelum Berwudhu

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah orang yang junub boleh tidur tanpa berwudhu terlebih dahulu? Jawab : Tidak ada dosa baginya untuk tidur sebelum berwudhu, akan tetapi yang lebih utama adalah hendaknya ia berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur, karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu dan memerintahkannya.… ...[Baca selengkapnya]..........

Bolehkah Menghadap Kiblat Dan Atau Membelakanginya Pada Saat Buang Hajat ?

Ada empat pendapat di kalangan para ulama: 1. Haram di tempat terbuka dan boleh di dalam bangunan atau di tempat terbuka dengan syarat antara orang yang buang hajat dengan kiblat terdapat penutup. Ini adalah pendapat Imam Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad dalam satu riwayat. 2. Haram di tempat terbuka dan di dalam bangunan. Ini adalah pendapat Ahmad dalam riwayatnya yang lain, ia dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. 3. Boleh di tempat terbuka dan di dalam bangunan. Ini adalah pendapat Dawud azh-Zhahiri. 4. Haram menghadap kiblat di tempat terbuka dan di dalam bangunan dan boleh membelakanginya. Ini adalah riwayat dari… ...[Baca selengkapnya]..........

Wajibkah Puasa Dan Shalat Bagi Wanita Yang Mengalami Keguguran

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika seorang wanita mengalami keguguran, apakah wajib baginya untuk puasa dan shalat sejak keluarnya darah sebelum keguguran, ataukah hukum darah itu sama dengan hukum darah haidh, dan saat terjadinya keguguran apakah setelahnya ada nifas atau tidak? Jawab : Jika seorang wanita hamil keguguran berupa segumpal darah atau daging yang belum memiliki bentuk manusia maka darah yang keluar bukanlah darah nifas, adapun darah yang keluar beberapa saat sebelum keguguran dan beberapa saat setelah keguguran, maka darah itu dianggap darah rusak (darah penyakit) yang tidak menghalangi seorang wanita untuk melaksanakan puasa dan shalat dengan keberadaan… ...[Baca selengkapnya]..........

Sunnah-sunnah Fitrah

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, ”Fitrah ada lima atau lima perkara termasuk sunnah-sunnah fitrah; khitan, mencukur bulu kelamin, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (Mukhtashar shahih Muslim, tahqiq Syaikh al-Albani, nomor 181). Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sepuluh perkara termasuk fitrah; mencukur kumis, membiarkan jenggot, siwak, membersihkan hidung dengan air, memotong kuku, membasuh sendi-sendi jari tangan, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kelamin dan intiqashul ma`.” Zakariya berkata, Mush’ab berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin ia adalah berkumur.” Qutaibah menambahkan, Waki’ berkata, “Intiqashul ma` yakni istinja`. (Rujukan yang sama nomor… ...[Baca selengkapnya]..........

Keguguran Pada Bulan Ketiga Dari Masa Kehamilan, Kemudian Setelah Lima Hari Melaksanakan Puasa Dan Shalat

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Seorang wanita hamil mengalami keguguran pada bulan ketiga dari umur kehamilannya di permulaan bulan Ramadhan, ia tidak berpuasa selama lima hari setelah keguguran karena adanya darah akibat keguguran itu, dan darah tersebut masih terus mengalir dari kemaluannya, walaupun demikian wanita tersebut tetap melaksanakan shalat dan puasa selama dua puluh lima hari, apakah shalat dan puasanya itu sah dalam kondisi semacam itu? Dan perlu diketahui bahwa wanita itu selalu berwudhu setiap kali akan shalat, dan kondisi itu masih terus berlangsung hingga saat ini yaitu adanya darah dan basah pada kemaluan, dan wanita itu juga… ...[Baca selengkapnya]..........

Mandi Junub Merangkap Mandi Jum’at, Atau Merangkap Mandi Haidh Dan Mandi Nifas

Tanya : Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah dibolehkan melaksanakan mandi junub sekaligus merangkap mandi untuk shalat Jum’at, mandi setelah habis masa haidh dan masa nifas? Jawab : Barangsiapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya, dan juga berniat untuk dibolehkannya shalat dan lainnya seperti Thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ” Setiap perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan… ...[Baca selengkapnya]..........