Sahabat Sejati dan Sahabat Yang Harus Dijauhi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

 

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Sebab turunnya ayat
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, “Ayat ini serupa dengan ayat yang tersebut pada surat Al-An’am: 52.”
Salman z berkata: Para muallaf yang dibujuk hatinya yaitu Uyainah bin Hushn Al-Fazari dan Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi datang kepada Rasulullah n. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andaikata engkau duduk di bagian depan majelis, dan engkau singkirkan mereka yaitu Salman, Abu Dzar, dan para fuqara muslimin. Mereka hanya mampu berpakaian dengan jubah wol (bulu domba) dan tidak ada selainnya. Jika demikian, kami akan duduk di majelismu, berbincang-bincang bersamamu dan mengambil apa yang engkau katakan.” Maka, turunlah ayat ini. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi 15/390, Ath-Thabari 15/236, Al-Baghawi 3/159, dan Zadul Masir 5/132)
Ibnu Katsir t (Tafsirnya 3/81) menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang terpandang, yakni para pemuka Quraisy. Mereka meminta Nabi n agar mereka duduk di majelis dan hanya mereka saja yang ada. Orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, Ammar, Shuhaib, Khabbab, dan Ibnu Mas’ud tidak boleh duduk bersama mereka. Mereka meminta agar orang-orang lemah tersebut menyendiri di tempat lainnya. Maka turunlah ayat ini.

Penjelasan mufradat ayat
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya.”
Sabar dalam ayat ini diterangkan oleh para ulama tafsir, bermakna al-habsu wa ats-tsabat. Yaitu menahan, menetapi, menguatkan. Maknanya adalah: Wahai Muhammad, tahan, tetapkan, dan kuatkan dirimu dan duduklah bersama dengan sahabat-sahabatmu, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah l. Selalu berdoa (beribadah) kepada Rabbnya di pagi dan sore hari. Mereka adalah orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah l yang kembali (bertaubat) kepada-Nya, dan senantiasa mengingat Allah l. Sabar yang dimaksud dalam ayat ini adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah l. Ia merupakan jenis yang paling tinggi dari macam-macam sabar. Dengan sempurnanya (sabar jenis ini), akan sempurna pula macam sabar yang lainnya. (Al-Baidhawi 3/493, Ath-Thabari 15/234, dan As-Sa’di 1/475)
“Menyeru Rabbnya.”
Ibnu Katsir t berkata: “Yaitu mengingat Allah l dengan bertahlil (mengucapkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ), bertahmid (mengucapkan الْحَمْدُ لِلهِ (, bertasbih (mengucapkan (سُبْحَانَ اللهِ, bertakbir (mengucapkan اللهُ أَكْبَرُ), berdoa, beramal shalih seperti menjalankan shalat fardhu/wajib (shalat lima waktu) dan yang lainnya.
Sebagian ulama berpendapat, maknanya adalah ibadah secara mutlak. Mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa kepada Allah l agar didatangkan kebaikan (manfaat) dan dijauhkan dari kejelekan (mudharat).
Al-Imam Ath-Thabari t dalam Tafsirnya (7/203-206) menjelaskan bahwa ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai ayat ini:
Pertama, maknanya ialah mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah.
Pendapat ini diriwayatkan Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Al-Hasan Al-Basri, Ibrahim An-Nakhai, Mujahid, dan Adh-Dhahhak. Pada sebagian riwayat, Mujahid berkata, “Shalat yang diwajibkan, shubuh dan ashar.”
Diriwayatkan dari Qatadah, “Dua shalat, yaitu shubuh dan ashar.”
Sedangkan dari Sa’id bin Musayyab diriwayatkan, “Shalat shubuh.”
Kedua, maknanya ialah dzikrullah.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibrahim, dan Manshur.
Ketiga, maknanya mempelajari Al-Qur’an dan membacanya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Ja’far.
Keempat, maknanya berdoa dan beribadah.
Pendapat ini diriwayatkan dari Adh-Dhahak.
Kemudian Al-Imam Ath-Thabari t mengatakan. “Yang benar dalam hal ini, Allah l melarang Nabi-Nya Muhammad mengusir orang-orang yang menyeru (berdoa) kepada Rabb mereka di pagi dan sore hari. Maka makna menyeru (berdoa) kepada Allah l yaitu beribadah dengan berbagai cara ibadah yang dianjurkan. Seperti bertasbih, bertahmid, memuji baik dengan ucapan maupun dengan gerakan anggota badan, mencakup perbuatan yang wajib (seperti shalat lima waktu), maupun yang nawafil (sunnah), yang diridhai Allah l. Sehingga, bisa jadi mereka mengerjakan semua makna doa atau ibadah tersebut secara keseluruhan. Allah l menyebutkan sifat mereka demikian, yaitu orang-orang yang menyeru kepada-Nya di pagi dan sore hari (dengan berbagai macam ibadah). Karena Allah l telah menamai “ibadah” dengan istilah “doa”, Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (Ghafir: 60)
Bisa jadi, makna doa di sini adalah ibadah secara khusus. Namun pendapat ini tidaklah lebih benar dibandingkan pendapat sebelumnya. Karena Allah l telah menyebutkan sifat mereka dengan (orang-orang yang senantiasa) melakukan ibadah (secara umum). Sehingga, tidak ada pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang mereka lakukan, tanpa ibadah yang lain.

“Di pagi dan senja hari.”
Kalimat ini menunjukkan kepada makna istimrar (kebersinambungan, terus-menerus, dan tidak terputusnya) ibadah mereka kepada Allah l, pada seluruh waktu. Adapula yang memahami, maknanya adalah mereka senantiasa menjaga shalat shubuh dan ashar. (Fathul Qadir 3/281)
Al-Imam Al-Qurthubi t mengatakan, dikhususkan penyebutan waktu pagi dan sore, karena pada umumnya kesibukan manusia terjadi di waktu pagi dan sore hari. Barangsiapa yang di waktu manusia sibuk beraktivitas, ia menghadap (beribadah) kepada Allah l, tentunya di waktu yang luang, ia akan lebih beramal (lebih giat dalam beribadah kepada Allah l). (Al-Qurthubi 6/432)
As-Sa’di t berkata, “Dalam ayat ini juga terdapat sunnah berdzikir, berdoa, beribadah di kedua pengujung hari (pagi dan petang). Karena Allah l memuji mereka dengan sebab ibadah mereka di pagi dan petang hari. Setiap perbuatan yang Allah l puji pelakunya, menunjukkan bahwa Allah l cinta kepada perbuatannya. Jika Allah l mencintainya maka berarti Allah l memerintahkannya.”

“Mengharap wajah-Nya.”
Kalimat ini menerangkan keadaan orang-orang yang berdoa (beribadah) kepada Allah l dengan ikhlas (karena Allah l). Dikaitkan dengan keikhlasan, sebagai peringatan bahwa ikhlas merupakan sendi (tiang) semua urusan. Adapula yang berpendapat, maknanya adalah taat kepada-Nya dan ikhlas (beribadah hanya karena Allah l). Ikhlas dalam beribadah dan beramal hanya karena Allah l. Menghadap hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain-Nya.
Sebagian ulama menafsirkan, mereka beribadah dengan mengharap kepada Allah l, yang disebutkan dengan sifat bahwa Allah memiliki wajah. Hal ini seperti firman Allah l:
“Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)
Demikian pula firman Allah:
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Rabbnya.” (Ar-Ra’d: 22) [lihat Tafsir Al-Qurthubi dan Al-Baidhawi]

“Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.”
Kata ﭝ berasal dari kalimat أَعْدَاهُ وَعَادَهُ, maknanya berpaling.
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata, janganlah kedua matamu memandang rendah mereka. (Tafsir Al-Qurthubi 10/391)
Asy-Syinqithi t mengatakan, janganlah kedua matamu melampaui mereka, gelisah dengan penampilan mereka yang usang (lusuh). Jangan merendahkan mereka karena adanya keinginan kuat dalam berharap kepada orang-orang kaya dan berpaling dari mereka yang lemah/miskin. Dalam ayat yang mulia ini, Allah l melarang Nabi-Nya memalingkan kedua matanya dari orang-orang mukmin yang lemah dan fakir, karena berharap besar kepada orang-orang kaya dan perhiasan kehidupan dunia yang ada pada mereka.
Az-Zajjaj berkata, “Maknanya adalah jangan kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada yang lain dari kalangan orang-orang yang terpandang dan berpenampilan bagus.” (Adhwa’ul Bayan, 3/264)

“Mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.”
Yaitu karena menginginkan majelis para pemuka yang ingin mengusir dengan paksa, menjauhkan orang-orang fakir dari majelis Rasulullah n. Nabi n pun tidak ingin melakukannya. Bahkan Allah l melarang beliau n melakukannya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan ayat:
“Jika kamu mempersekutukan Allah niscaya akan hapuslah amalmu.” (Az-Zumar: 65)
Meskipun Allah l telah melindungi beliau n dari perbuatan syirik.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.”
Yaitu orang-orang yang Kami kunci mati hatinya.
Al-Imam Al-Qurthubi t dalam Tafsirnya (10/392) meriwayatkan dari jalan Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas c, beliau berkata: “Ayat ini turun kepada Umayyah bin Khalaf Al-Jumahi. Hal itu disebabkan karena beliau meminta kepada Nabi Muhammad n sesuatu yang beliau n tidak menyukainya, yaitu memisahkan orang-orang fakir dari sisi beliau dan lebih dekat (bersahabat) dengan orang-orang besar dari penduduk Makkah. Maka Allah l turunkan ayat ini. Maknanya adalah orang-orang yang Kami kunci mati hatinya dari bertauhid.”
Ath-Thabari t menjelaskan, “Maknanya adalah janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir yang berusaha untuk mengusir orang-orang yang senantiasa beribadah di pagi dan petang harinya.” (Tafsir Ath-Thabari, 15/236)

“Serta menuruti hawa nafsunya.”
Ath-Thabari t berkata, “Yaitu orang-orang yang tidak mau mengikuti perintah Allah l dan menjauhi larangan-Nya. Lebih mendahulukan hawa nafsunya ketimbang ketaatan kepada Rabbnya.”
As-Sa’di t mengatakan, “Yaitu menjadi pengikut hawa nafsunya. Apa yang disukainya, ia pun mengerjakannya serta berusaha untuk menggapainya, walaupun dalam usahanya terdapat kebinasaan dan kerugian. Dengan demikian ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan. Sebagaimana yang Allah l firmankan:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (Al-Jatsiyah: 23)

“Dan adalah keadaannya melewati batas.”
Yaitu sia-sia, penyesalan, kebinasaan, menyelisihi kebenaran.
Ath-Thabari dalam Tafsirnya (15/236) mengatakan bahwa para ahli tafsir berselisih dalam memaknai ayat ini.
Ada yang berpendapat keadaan urusan mereka sia-sia, sebagaimana riwayat dari Abdullah bin ‘Amr dan Mujahid.
Ada yang memaknainya dengan penyesalan, sebagaimana riwayat dari Dawud.
Sedangkan riwayat dari Khabbab mengatakan kebinasaan, Ibnu Zaid mengatakan menyelisihi al-haq.
Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa urusan mereka sia-sia dan binasa. Hal ini berdasarkan suatu ucapan: “Si fulan telah melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam urusannya,” jika ia melampaui batas dan kadar kemampuannya.
Demikian pula seorang yang urusannya berlebih-lebihan adalah orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dengan berbuat riya, sombong, merendahkan orang-orang yang beriman. Seorang yang berlebih-lebihan, ia telah melampaui batas yang dengannya pula akan ia sia-siakan kebenaran yang akan berakhir pada kebinasaan.

Faedah yang dapat diambil
As-Sa’di t berkata: “Dalam ayat ini Allah l perintahkan Nabi-Nya dan yang lain, agar menyabarkan dirinya bersama orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah l yang kembali (senantiasa bertaubat), orang-orang yang selalu menyeru Rabbnya di pagi dan sore hari, yaitu di awal dan di akhir hari. Mereka melakukan hal itu hanya untuk mengharap wajah Allah l. Maka Allah l sifati mereka sebagai (orang-orang yang beribadah) dan melakukannya dengan keikhlasan. Adanya perintah untuk bersahabat dengan orang-orang yang baik, kesungguhan jiwa dalam bersahabat dengan mereka, upaya membaur berkumpul dengan mereka, meskipun mereka adalah orang-orang fakir, karena dalam bersahabat dengan mereka terdapat faedah dan manfaat yang tidak bisa dihitung.

Ayat ini juga menunjukan bahwa orang yang seharusnya ditaati dan menjadi imam (pemuka manusia) adalah orang yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah l, dan dilahirkan/diungkapkan dengan lisannya, tekun dalam mengingat Allah l, mengikuti keridhaan Rabbnya, mendahulukan kecintaan (kepada Allah l) ketimbang hawa nafsunya. Hal itu ia jaga setiap waktu. Ia perbaiki keadaan dirinya, sehingga seluruh keadaannya menjadi baik. Semua perbuatannya di atas keistiqamahan dan mengajak manusia kepada apa yang Allah l karuniakan kepadanya. Sehingga, pantaslah dengan hal itu ia diikuti dan dijadikan sebagai imam atau pemuka.” (Tafsir As-Sa’di 1/475)

Penutup
Abul Barakat Badruddin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzi Ad-Dimasyqi berkata dalam kitabnya Adabul ‘Isyrah (hal. 19, 51): “Di antara adab dalam pergaulan adalah ikhlas dalam bersahabat. Yaitu memerhatikan dalam bersahabat dengan temannya, kebaikan mereka, dan bukan mengikuti keinginannya. Berupaya menunjukkan kepada jalan yang benar dan bukan kepada apa yang disenanginya.
Abu Shalih Al-Murri t mengatakan, ‘Seorang mukmin yang baik adalah yang menemanimu dengan cara yang baik, menunjukkanmu kepada kebaikan agama dan duniamu. Adapun orang munafik adalah orang yang menemanimu dengan mencari muka dan berdusta, serta menunjukkanmu kepada apa yang kamu inginkan (menurut seleramu). Sedangkan orang yang ma’shum adalah orang yang mampu membedakan antara dua keadaan ini’.”
Beliau juga berkata, “Di antara adab berteman adalah tidak berteman dengan orang yang menyelisihimu dalam hal i’tiqad (keyakinan). Yahya bin Muadz berkata, ‘Barangsiapa yang aqidahmu berbeda dengan aqidahnya, maka hatimu akan berbeda dengan hatinya’.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,20 November 2011/23 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly